Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan alasan kunjungan wisatawan mancanegara yang datang melalui BIJB Kertajati menurun karena tidak ada penerbangan.
REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA -- Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, menyampaikan keberatannya mengenai penggunaan APBD Jabar yang terus-terusan digunakan untuk nombok biaya operasional Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka.
Pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu beralasan, Bandara Kertajati selama ini tidak menghasilkan alias merugi. Bandara itupun saat ini hanya melayani satu penerbangan saja.
"Beban utang kita tinggi. Satu dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional), kedua membiayai Kertajati, kita ngebiayaain terus, hasilnya ga ada," kata KDM dalam video di akun YouTubenya, dikutip Republika, Rabu (7/1/2025).
Dalam video itu, KDM terlihat berbincang dengan sejumlah jajarannya, termasuk Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar, Dedi Mulyadi.
“Kita membiayai sesuatu yang tidak menghasilkan apa pun, gitu lho. Padahal lembaga bisnis itu, lembaga penerbangan bisnis,” tambah KDM.
Selain Kertajati, APBD Jabar juga tersedot untuk membayar utang pembangunan Masjid Raya Al Jabbar, Kota Bandung. Pembangunan masjid apung terbesar di Jabar itu terjadi pada era Gubernur M Ridwan Kamil. Pembiayaannya menggunakan dana PEN.
Selama ini, Pemprov Jabar harus menanggung biaya utang untuk Masjid Al Jabbar Rp 45 miliar per tahun dan biaya Bandara Kertajati Rp 100 miliar per tahun.

1 month ago
19
















































