Kebijakan MSCI Dinilai Jadi Momentum Perbaikan Pasar Modal Indonesia

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif CSA Institute David Sutyanto memandang kebijakan terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini memberikan kesempatan bagi pasar modal Indonesia untuk melakukan penguatan struktural yang akan berdampak positif dalam jangka panjang.

“Koreksi IHSG hari ini sebaiknya dipahami sebagai refleksi dari proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru,” kata David dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Apabila momentum tersebut dimanfaatkan dengan baik, David mengatakan bukan hanya status Indonesia sebagai emerging market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global.

David menegaskan, situasi tersebut dapat dilihat sebagai momentum perbaikan, bukan semata ancaman. Ia mengingatkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus tumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten-emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional.

“Tantangannya adalah memastikan bahwa infrastruktur regulasi, transparansi data, dan konsistensi kebijakan mampu mengimbangi kemajuan tersebut,” katanya.

Sementara itu, di luar isu transparansi kepemilikan, David mencatat investor global juga mencermati aspek konsistensi kebijakan pasar, termasuk terkait penerapan suspensi perdagangan, mekanisme Full Call Auction (FCA), kejelasan standar durasi suspensi, serta keseragaman perlakuan antarkasus.

Dalam beberapa situasi, kebijakan yang bertujuan melindungi investor justru dapat menimbulkan persepsi ketidakpastian apabila tidak disertai parameter yang jelas dan dapat diprediksi.

“Setiap saham yang disuspensi perdagangannya tidak dapat masuk ke Indeks MSCI meskipun sebenarnya saham tersebut memiliki fundamental yang baik. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal regulasi itu sendiri, tetapi bagaimana regulasi tersebut dikomunikasikan dan diterapkan secara konsisten,” kata David.

Menurut dia, solusi terhadap situasi itu sebenarnya cukup jelas dan berada dalam jangkauan. Pertama, diperlukan penguatan transparansi struktur kepemilikan melalui penyempurnaan kualitas data, keterbukaan informasi, serta kemudahan akses bagi investor institusi global tanpa mengorbankan perlindungan data yang sah.

Kedua, harmonisasi dan penyempurnaan kebijakan teknis bursa seperti suspensi, FCA, dan mekanisme perdagangan lainnya perlu diarahkan pada prinsip keterprediksian dan konsistensi, sehingga pasar memahami dengan jelas kerangka main yang berlaku.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|