Langgar KH Ahmad Dahlan di Kauman menjadi saksi lahirnya Muhammadiyah

6 hours ago 1

Langgar KH Ahmad Dahlan di Kauman menjadi saksi lahirnya Muhammadiyah Pengelola langgar yang masih bagian dari keluarga besar Ahmad Dahlan, Ahmad Paramasatya, menunjukkan Langgar KH Ahmad Dahlan dan penanda koreksi kiblat di dalamnya, Jumat (27/2/2026)k - Harian Jogja/Lugas Subarkah

Harianjogja.com, JOGJA—Di balik gang sempit di kawasan Kauman, Jogja, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menjadi saksi lahirnya pembaruan Islam di Indonesia. Langgar KH Ahmad Dahlan bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang kecil yang melahirkan gagasan besar hingga berkembang menjadi Muhammadiyah.

Bangunan berukuran sekitar 5x5 meter itu masih berdiri kokoh di lantai dua sebuah kompleks tua, tak jauh dari Masjid Gede Kauman. Di dalamnya, terdapat tanda arah kiblat berupa garis tipis di lantai yang konon dibuat langsung oleh KH Ahmad Dahlan, simbol keberanian meluruskan tradisi demi kebenaran.

Langgar tersebut berada di utara simpang empat Jalan Ngasem–Jalan Kauman, tersembunyi di balik gang selebar satu motor. Suasananya tenang, jauh dari hiruk pikuk wisata Jogja di sekitarnya. Namun dari ruang kecil inilah sejarah besar pernah dimulai.

Pengelola langgar yang masih merupakan keluarga besar KH Ahmad Dahlan, Ahmad Paramasatya, menjelaskan bangunan tersebut didirikan oleh ayah KH Ahmad Dahlan, KH Abu Bakar, seorang abdi dalem pamethakaan atau keulamaan Keraton dengan gelar Kethip Amin.

“Beliau yang membangun Langgar Kidul atau yang sekarang kita kenal Langgar KH Ahmad Dahlan. Waktu pertama dibangun, dalam beberapa keterangan sejarah masih digambarkan sederhana, menggunakan material kayu dan bambu dengan konsep semi pendopo,” katanya, Jumat, (27/2/2026).

Tidak ada catatan pasti kapan langgar didirikan. Namun ketika KH Ahmad Dahlan lahir pada 1868, bangunan tersebut sudah berdiri dan aktif digunakan untuk ibadah serta pengajian.

Pertanyaan Kritis tentang Kiblat

Kisah besar bermula dari kegelisahan sederhana. Saat sering salat di berbagai masjid di Jogja, KH Ahmad Dahlan menemukan arah kiblat selalu menghadap lurus ke barat. Pertanyaan pun muncul, benarkah arah tersebut tepat menuju Makkah?

“Apakah benar kalau dari Jogja ke barat sampai Makkah? Lalu beliau sendiri yang coba meriset dengan kompas, jangkar dan peta dunia yang dibuka di atas meja. Ternyata kalau dari Jogja ditarik garis lurus ke barat itu melenceng tidak ke Makkah,” katanya. 

Hasil penelitian menunjukkan arah kiblat seharusnya miring sekitar 22 derajat ke utara. Langgar kemudian dibongkar dan dibangun kembali mengikuti arah baru tersebut.

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Koreksi kiblat memicu kontroversi di masyarakat hingga membuat langgar semakin ramai. Aktivitas pengajian dan salat dengan saf miring menarik perhatian luas, bahkan melebihi Masjid Gede Kauman.

Situasi tersebut memicu ketegangan dengan otoritas keagamaan saat itu, termasuk Kiai Penghulu Keraton Muhammad Kholil Kamaludiningrat.

“Tapi Kiai Dahlan bergeming, tetap ada pengajian, salat dengan saf miring. Akhirnya setelah last warning, langgar dihancurkan oleh orang-orang suruhan Kiai Penghulu. Itu terjadi pada waktu bulan Ramadan,” ujarnya.

Ironisnya, peristiwa penghancuran justru menjadi titik balik perubahan. Sejumlah masjid mulai meninjau ulang arah kiblat, termasuk Masjid Besar Kauman sebagai yang pertama mengikuti koreksi tersebut.

Laboratorium Pendidikan Muhammadiyah

Langgar itu ternyata tidak berdiri sendiri. Di sisi timur dan selatan terdapat bangunan yang sebelum berdirinya Muhammadiyah digunakan sebagai sekolah. Dari sinilah cikal bakal ribuan institusi pendidikan Muhammadiyah bermula.

Setahun sebelum Muhammadiyah berdiri pada 1912, KH Ahmad Dahlan merintis sekolah bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum.

“Rata-rata dieksperimenkan di kompleks ini. Jadi dulu sekolah di sini muridnya semakin banyak, akhirnya dipecah di bangunan baru di Suronatan pada 1918. Baru nanti menyebar ada di Lempuyangan, Bausasran, Pakualaman dan sebagainya,” kata dia.

Sekolah terakhir yang beroperasi di kompleks tersebut adalah SMEA Muhammadiyah 2 pada 1965 hingga sekitar 1990-an. Setelah sempat terbengkalai, bangunan direnovasi pada 2010 oleh Muhammadiyah bersama keluarga KH Ahmad Dahlan dan Pemkot Jogja, lalu difungsikan sebagai lokasi edukasi sejarah.

Pendidikan sebagai Jalan Pembaruan

Bagi KH Ahmad Dahlan, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi jalan perubahan sosial. Ia melihat banyak masyarakat Jawa mengaku Muslim, tetapi praktik ibadahnya jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Fenomena tersebut tidak hanya dilihat dari sisi agama, tetapi juga kondisi sosial masyarakat yang miskin dan minim akses pendidikan.

“Banyak umat Islam waktu itu tidak memiliki power, miskin dan bodoh. Karena tidak bisa mengakses pendidikan,” katanya.

Pada masa itu, pendidikan agama hanya tersedia di pesantren tradisional yang terbatas, sementara pendidikan umum berada di sekolah kolonial Belanda yang diskriminatif terhadap pribumi.

“Kalau kita berbicara tafsir Al-Qur’an, tafsir hadis, yang itu level tinggi kepada orang yang pengetahuan dasarnya saja belum punya, maka akan sia-sia. Ilmunya tidak akan masuk,” katanya.

Melalui pendidikan modern berbasis nilai Islam, KH Ahmad Dahlan menyebarkan gagasan pembaruan yang kemudian berkembang menjadi gerakan Muhammadiyah.

“Kiai Dahlan ingin mengubah Islam menjadi agama yang sederhana dan bisa dipahami orang. Tidak mesti ningrat atau juragan, tapi semua orang bisa memahami Islam,” ujarnya.

Kini, Langgar KH Ahmad Dahlan bukan hanya bangunan tua di gang sempit Kauman, tetapi simbol keberanian berpikir kritis, pendidikan sebagai jalan perubahan, serta awal perjalanan Muhammadiyah yang terus berkembang hingga hari ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|