REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Hujan kerap diprediksi, dipantau satelit, dan dihitung lewat teknologi cuaca. Namun bagi ulama besar asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi, hujan tetap menyimpan satu hakikat mendalam bahwa ia adalah rahmat langit yang tak sepenuhnya bisa dipastikan manusia.
Dalam tafsirnya atas penutup Surat Luqman ayat 34, Said Nursi menegaskan bahwa turunnya hujan termasuk salah satu dari lima perkara ghaib yang hanya diketahui Allah SWT secara mutlak.
Lima perkara itu adalah: pengetahuan tentang hari kiamat, turunnya hujan, apa yang ada dalam rahim, apa yang akan dikerjakan manusia esok hari, dan di mana seseorang akan wafat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ
"Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim..." (QS Luqman [31]:34)
Namun, ayat ini kerap dipersoalkan kalangan ateis. Mereka berargumen, hujan bukan lagi perkara ghaib karena bisa diprediksi melalui observatorium dan ilmu meteorologi. Jika manusia bisa memperkirakan kapan hujan turun, di mana letak keghaibannya?
Said Nursi pun menjawab kritik itu dengan pendekatan yang jernih sekaligus spiritual. Menurutnya, waktu turunnya hujan tidak pernah benar-benar terikat pada hukum baku sebagaimana terbit dan tenggelamnya matahari.
Ia langsung terkait dengan kehendak khusus Allah dari perbendaharaan rahmat-Nya, tanpa perantara yang mutlak.

3 hours ago
2















































