Micro Drama Sinematik

8 hours ago 2

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARA -- Pada suatu sore yang seharusnya khusyuk untuk menulis, linimasa Facebook malah berubah jadi etalase air mata kolektif. Potongan-potongan video berdurasi dua menit berjejer seperti iklan obat maag: pasangan saling menatap, musik mengalun, komentar netizen berbaris: “nonton berkali-kali”, “kok bisa sesingkat ini tapi nyantol?”.

Yang mereka komentari ini bukan drama China standar yang disukai emak-emak biasanya sampai tiga puluh episode lebih, lengkap dengan intrik mertua dan badai hujan buatan. Drama yang mereka kesankan ini sesuatu yang lebih mungil, lebih cepat, dan ironisnya, lebih memabukkan: micro drama.

Mari kita luruskan dulu istilahnya. Micro drama adalah serial berdurasi satu sampai lima menit per episode, dirancang vertikal, dikonsumsi di ponsel, dengan tempo seperti kopi sachet: cepat, manis, dan bikin ketagihan.

Di Tiongkok, micro drama bukan sekadar tren, melainkan solusi sosial. Dengan lebih dari satu miliar pengguna internet, mayoritas lewat ponsel, orang-orang membutuhkan hiburan yang bisa ditelan di sela rapat, antre lift, atau saat di halte. Hukum ekonomi bekerja tanpa pidato: ada permintaan akan hiburan instan, industri pun memasoknya.

Tapi yang membuat saya terhenti bukan konsepnya, melainkan sebuah judul micro drama yang belakangan ini beredar seperti gosip arisan: Summer Rose. Disebut-sebut menembus tiga miliar penayangan di Hongguo Short Drama, bahkan diklaim meraih satu miliar penonton dalam empat hari.

Angka-angka yang biasanya berlaku pada turnamen sepak bola atau kampanye politik, kini menempel di drama dua menit. Lebih mengejutkan lagi, Summer Rose —adaptasi novel web Shen Qing You Yin karya Niao Song Mi— mendapat rating 8,0/10 di MyDramaList, melampaui banyak drama “normal” yang lebih mahal, lebih panjang, dan lebih sok penting.

Di sinilah absurditas yang menggelitik itu muncul. Selama ini, micro drama sering dicibir: akting setengah matang, alur terburu-buru, sinematografi ala “yang penting ada”. Namun Summer Rose mematahkan stereotip itu dengan gaya yang nyaris sinematik.

Biaya produksinya mendekati delapan juta yuan —jauh di atas rata-rata micro drama— musik latarnya rapi, visualnya bersih, dan narasinya, meski singkat, menyentuh wilayah emosi yang familiar: cinta yang sabar, trauma yang dipeluk, pernikahan kontrak yang perlahan berubah menjadi keterikatan.

Ini cerita tentang Zhou Sheng’an, pewaris kaya yang kaku, dan Bai Qingmei, fotografer mandiri yang membawa luka masa lalu, berjalan di jalur klasik “Cinderella modern” —klise yang, entah bagaimana, tetap berhasil menyalakan simpati.

Keberhasilannya tidak berhenti di layar ponsel domestik. Netflix, yang biasanya gemar mengekspor drama panjang dari Asia, “gercep” membeli hak cipta Summer Rose, menjadikannya serial pendek Tiongkok pertama yang diluncurkan ke platform internasional. Industri pun membaca sinyal: format mikro bukan sekadar camilan, melainkan hidangan yang mulai diperebutkan.

Di titik ini, saya teringat satu episode kebijakan budaya yang kerap dilupakan di tengah euforia. Pada 2018, regulator Tiongkok —melalui badan penyiaran dan perfilman— mengeluarkan panduan ketat terhadap konten yang dianggap mempromosikan “nilai-nilai tidak sehat”: hedonisme, kultus selebritas, kekayaan instan, dan romantisisme ala dongeng yang menjual ilusi mobilitas sosial tanpa kerja.

Drama-drama “Cinderella” —gadis miskin diselamatkan pewaris kaya— menjadi sasaran kritik. Bahkan banyak judul dirombak, dipinggirkan jam tayangnya, atau dipaksa menekankan etika kerja dan tanggung jawab sosial. Bukan pelarangan absolut yang mematikan genre, melainkan pagar ideologis yang mengingatkan: cinta boleh, fantasi silakan, tapi jangan mengajari publik bahwa hidup adalah lotre romantik.

Apakah pagar itu sudah dicabut? Tidak sepenuhnya. Yang terjadi lebih subtil: industri beradaptasi. Narasi cinta tetap hadir, tetapi dibungkus dengan kerja, trauma, penyembuhan, dan “cinta yang bertumbuh” alih-alih “jatuh dari langit”.

Summer Rose berada di persimpangan itu. Ia memeluk formula yang mudah disukai —kontrak pernikahan, proteksi total sang suami— namun menambahkan lapisan psikologis dan estetika produksi yang membuatnya terasa “dewasa”.

Bahkan pemilihan pemeran —usia aktor yang nyaris sebaya dengan aktris, ekspresi minimalis, gestur “ngemong” yang lembut— menciptakan kesan autentik yang jarang kita temui di produk instan.

Lalu mengapa format dua menit ini begitu adiktif? Psikologinya sederhana: cliffhanger cepat, resolusi emosional mikro, dan ilusi kemajuan cerita yang konstan.

Dalam dunia yang terfragmentasi oleh notifikasi, micro drama adalah sastra potongan: ia tidak meminta komitmen dua jam, hanya dua menit —dan dua menit berikutnya— hingga tanpa sadar kita menelan satu musim.

Namun di balik tepuk tangan, ada pertanyaan yang patut diselipkan: apakah kita sedang menyaksikan demokratisasi estetika atau sekadar industrialisasi emosi? Ketika kisah cinta dipadatkan menjadi tablet emosional, apakah kedalaman diganti dengan intensitas?

Summer Rose memang menghibur, rapi, bahkan memikat. Tapi ia juga mengajarkan bahwa narasi bisa direkayasa agar terasa “besar” dalam ruang yang kecil —sebuah keahlian yang, di tangan industri, bisa menjadi seni, atau menjadi pabrik sensasi.

Maka, jika hari ini linimasa kita banjir potongan dua menit yang membuat kita tersenyum, menangis, lalu mengulanginya, mungkin itu bukan sekadar tren. Itu adalah cermin zaman: ketika waktu menjadi barang paling mahal, industri menawarkan cinta dalam kemasan sachet.

Ironisnya, justru di situlah kita belajar sesuatu yang sederhana —bahwa panjang bukan jaminan makna, dan singkat bukan kutukan bagi kedalaman. Toh, seperti musim panas dalam judulnya, Summer Rose datang cepat, mekar sebentar, lalu meninggalkan aroma yang membuat kita bertanya: apakah kita jatuh cinta pada kisahnya, atau pada cara ia disajikan?

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|