OPINI: Merawat Kedaulatan, Mengakselerasi Ekonomi Kreatif DIY

4 hours ago 2

 Merawat Kedaulatan, Mengakselerasi Ekonomi Kreatif DIY Dody Junianto,S.E.,M.Eng. Kabid Sarana dan Prasarana Industri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY. - Istimewa.

Tujuh puluh enam tahun silam, tepatnya pada 1 Maret 1949, langit Yogyakarta menjadi saksi bisu sebuah aksi keberanian yang menggetarkan panggung politik internasional. Serangan Umum 1 Maret, yang diarsiteki oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama Letkol Soeharto, bukan semata operasi militer, melainkan sebuah political signaling kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup, masih berdaulat, dan pantang menyerah. Selama enam jam penuh, Yogyakarta berada di bawah kendali pejuang republik.

Resonansi peristiwa itu bergema hingga Sidang Dewan Keamanan PBB, mempercepat jalan menuju Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949. Peristiwa historis itu bukan sekadar catatan dalam buku teks. Ia adalah epistemologi perjuangan cara bangsa ini memahami bahwa kedaulatan tidak dihadiahkan, melainkan direbut, dipertahankan, dan dirawat dengan segenap daya.

"Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa", jangan merasa bisa, tapi jadilah orang yang mampu berasa. Wejangan Jawa ini mengajarkan bahwa kepahlawanan sejati bukan tentang arogansi kekuatan, melainkan tentang kepekaan: peka terhadap kebutuhan zaman, peka terhadap suara rakyat, dan peka terhadap arah sejarah yang terus bergerak.

Kini, di hadapan kita, terbentang tantangan kedaulatan dalam rupa yang berbeda. Bukan lagi serbuan militer, melainkan penetrasi ekonomi, disrupsi digital, dan kompetisi kreatif antarbangsa yang berlangsung tanpa jeda. Dalam konteks inilah, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki posisi strategis yang tidak bisa diabaikan.

Lebih dari sekedar narasi, data angka berbicara lebih keras, secara nasional, nilai ekonomi kreatif terhadap PDB tahun 2024 mencapai Rp 1.611,2 triliun, dengan tenaga kerja ekraf menyentuh 27,40 juta jiwa pada 2025. DIY berdiri tegak di tengah capaian membanggakan itu. PDRB DIY triwulan III 2024 tumbuh 5,05 persen secara year on year, sementara tingkat kemiskinan turun menjadi 10,4 persen menandai arah yang benar dalam pembangunan yang berkeadilan.

Di panggung internasional, Yogyakarta telah dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council, sebagai pengakuan atas perannya melestarikan batik yang sejak 2009 diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Capaian ini bukan sekadar prestise simbolik, melainkan leverage nyata bagi industri kreatif lokal untuk menembus pasar global. Di ranah digital, lebih dari 90 persen rumah tangga DIY telah terhubung internet fondasi kokoh bagi transformasi ekraf berbasis teknologi.

Kuliner, fesyen, dan kriya tetap menjadi triumvirat unggulan. Kotagede dengan peraknya, Imogiri dengan batik tulis tradisionalnya, Manding dengan kerajinan kulitnya, hingga klaster animasi dan pengembang gim digital dari kampus-kampus di Sleman semuanya membentuk ekosistem kreatif yang kaya dan saling terhubung.

Namun modal besar itu belum sepenuhnya dikonversi menjadi kapital ekonomi yang berkeadilan. Masih banyak pelaku kreatif lokal yang terhambat pada akses pembiayaan, jaringan distribusi, dan literasi digital. Di sinilah negara harus hadir: bukan sebagai regulator semata, melainkan sebagai enabler yang memfasilitasi transformasi potensi menjadi produktivitas. Mengakselerasi ekonomi kreatif DIY adalah wujud konkret merawat kedaulatan di era Indonesia Emas.

Kedaulatan hari ini bermakna lebih luas: berdaulat secara pangan, berdaulat secara teknologi, dan berdaulat secara budaya. Ketika produk kreatif DIY menembus pasar global, ketika narasi budaya Jawa diartikulasikan oleh anak-anak muda dalam bahasa visual dan digital yang universal, maka sesungguhnya kita sedang meneruskan semangat 1 Maret dengan cara yang relevan dengan zamannya.

"Becik ketitik, ala ketara", kebaikan akan tampak, keburukan akan terlihat. Warisan perjuangan 1949 terlalu agung untuk kita sia-siakan. Data membuktikan bahwa DIY mampu. Tekad membuktikan bahwa DIY mau. Yang diperlukan kini adalah sinergi: pemerintah yang memfasilitasi, pelaku kreatif yang berinovasi, dan masyarakat yang mengapresiasi produk lokal sebagai bagian dari cinta tanah air.

Saatnya generasi DIY menjadi pahlawan ekonomi kreatif: bukan dengan senjata, melainkan dengan inovasi, kolaborasi, dan integritas. Dari 1 Maret menuju Indonesia Emas perjalanan itu terus berlanjut, dan tongkat estafetnya kini ada di tangan kita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|