REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Muhammad Syarkawi Rauf menilai Indonesia perlu melakukan mitigasi risiko ekonomi atas insiden penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat atas perintah Presiden AS Donald Trump. Pasalnya, aksi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi perekonomian global, termasuk Indonesia, dalam jangka menengah, seiring belum jelasnya arah politik Venezuela terhadap AS pascainsiden tersebut.
Syarkawi menuturkan penangkapan Maduro pada Sabtu (3/1/2026) di Caracas, waktu setempat, telah mengguncang tatanan politik global yang selama ini dibangun berdasarkan aturan yang disepakati secara internasional. Terguncangnya tatanan politik tersebut pada akhirnya berdampak pada tatanan ekonomi.
“Penangkapan Maduro oleh pasukan AS juga dikhawatirkan meningkatkan risiko terhadap perekonomian global mengingat Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, yaitu mencapai 303 miliar barel,” kata dia dalam keterangannya kepada Republika, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan cadangan minyak Venezuela lebih besar dibandingkan dengan Arab Saudi yang mencapai 267 miliar barel, Iran 209 miliar barel, Irak 145 miliar barel, serta Uni Emirat Arab (UEA) sebanyak 113 miliar barel.
Namun, dalam 50 tahun terakhir sejak 1970-an, kontribusi perekonomian Venezuela menurun dari 1 persen menjadi hanya 0,1 persen terhadap gross domestic product (GDP) global harga konstan. Oleh karena itu, risiko penangkapan Maduro terhadap perekonomian global saat ini masih relatif kecil.
Hal serupa juga terjadi pada produksi minyak Venezuela yang menurun dari 3,5 juta barel per hari pada 1970-an, setara dengan 8 persen pasokan minyak global pada dekade 1970–1980-an, menjadi sekitar 1 juta barel per hari atau peringkat ke-18 produsen minyak dunia.
Syarkawi menerangkan hingga saat ini dampak penangkapan Maduro terhadap harga komoditas minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan sebesar 1,7 persen, masing-masing menjadi 61,76 dolar AS per barel untuk minyak Brent dan 58,32 dolar AS per barel untuk WTI.
“Penangkapan Maduro membuat prospek sektor energi menjadi positif dalam jangka menengah karena ekspektasi investasi pada infrastruktur perminyakan akan meningkat. Hal ini berdampak pada kenaikan harga saham perusahaan-perusahaan minyak AS,” terangnya.

1 day ago
2

















































