Puluhan Perusahaan China Jajaki Peluang Investasi Lewat Konferensi di Jakarta

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Puluhan perusahaan asal China dijadwalkan datang ke Indonesia untuk menjajaki peluang investasi dan kerja sama bisnis melalui ajang “China Conference: Southeast Asia 2026” yang akan digelar di Jakarta pada 10 Februari 2026. Konferensi ini menjadi momentum penting di tengah peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–China, sekaligus meningkatnya minat investor China terhadap pasar Asia Tenggara.

Konferensi tersebut digelar South China Morning Post bekerja sama dengan Kadin Indonesia. Wakil Ketua Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kadin Indonesia yang juga CEO Sintesa, Shinta Kamdani, mengatakan konferensi tersebut akan dihadiri lebih dari 30 perusahaan China, termasuk perusahaan lapis kedua dan ketiga yang belum berinvestasi di Indonesia namun tengah aktif mempelajari iklim usaha nasional.

“Kesempatan ini sangat strategis karena konferensi berlangsung berdekatan dengan agenda APEC Business Advisory Council (ABAC) yang digelar di Jakarta pada 7–9 Februari. Banyak CEO tingkat tinggi dari negara-negara APEC, termasuk China dan Hong Kong, berada di Indonesia,” ujar Shinta dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Shinta menilai konferensi ini dapat memperkuat hubungan ekonomi bilateral yang selama ini telah terbangun di tingkat pemerintah, dengan memperluas kolaborasi langsung antarpelaku usaha. Menurutnya, peran dunia usaha menjadi krusial untuk mengonversi kedekatan diplomatik menjadi realisasi perdagangan dan investasi.

“Indonesia dan China sudah punya hubungan ekonomi yang erat. Tantangannya sekarang adalah memperluas kemitraan di level perusahaan, terutama melalui business matching dan misi dagang-investasi,” kata Shinta.

Ia menambahkan, Kadin akan menghubungkan perusahaan-perusahaan China dengan pelaku usaha dan asosiasi di Indonesia dari berbagai sektor, mulai dari manufaktur, digital, hingga ekonomi hijau. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan arus investasi langsung asing, mengingat China dan Hong Kong saat ini sudah masuk jajaran investor terbesar di Indonesia.

“Kalau investasi China dan Hong Kong digabung, nilainya bahkan melampaui Singapura. Artinya peluangnya sangat besar, terutama untuk mendukung proyek digitalisasi, ekonomi hijau, dan pengembangan teknologi,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Development Officer South China Morning Post (SCMP), Eugene Tang, menjelaskan perusahaan-perusahaan China yang akan hadir mayoritas merupakan investor potensial yang masih berada pada tahap eksplorasi pasar Indonesia. Mereka datang untuk mempelajari ukuran pasar, potensi pertumbuhan, serta lanskap regulasi dan perpajakan.

“Perusahaan-perusahaan besar seperti Huawei, BYD, dan OPPO sudah lama beroperasi di Indonesia. Yang datang kali ini adalah perusahaan lapis berikutnya yang tertarik masuk, tetapi ingin memahami lebih dalam iklim bisnis Indonesia,” kata Eugene.

Ia mengungkapkan perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari fintech pembayaran digital, produsen peralatan rumah tangga terbesar dunia, kendaraan listrik (EV), media sosial dan new media, hingga kesehatan dan farmasi. Menurutnya, Indonesia merupakan pasar besar dengan populasi yang kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

“Mereka ingin mengetahui bagaimana iklim investasi di Indonesia, bagaimana struktur pajak, dan bagaimana peluang bermitra dengan perusahaan lokal,” ujar Eugene.

Eugene menambahkan, sponsor konferensi juga mencerminkan keragaman sektor yang terlibat, seperti Alibaba Cloud di bidang teknologi dan kecerdasan buatan, Ant International di sektor fintech, serta Fosun Health dan FWD di sektor kesehatan dan asuransi.

China Conference: Southeast Asia 2026 akan mempertemukan diplomat, pembuat kebijakan, eksekutif bisnis, inovator teknologi, dan investor dari Indonesia, China, serta negara-negara ASEAN. Forum ini akan membahas isu strategis kawasan, termasuk dinamika rivalitas AS–China, strategi rantai pasok China+1, integrasi ekonomi regional, investasi berkelanjutan, transisi energi hijau, industri kendaraan listrik, hingga perkembangan ekonomi digital dan keuangan modern.

Melalui dialog tingkat tinggi, diskusi panel, dan sesi jejaring, konferensi ini diharapkan menjadi wadah konkret untuk mempertemukan kepentingan investasi China dengan kebutuhan pembangunan ekonomi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|