Harianjogja.com, JAKARTA—Risiko kebocoran data pribadi selama Ramadan meningkat signifikan seiring lonjakan transaksi e-commerce, donasi daring, pemesanan perjalanan, hingga aktivitas media sosial. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengingatkan momentum ini kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Menurut Heru, modus yang sering muncul berupa phishing bertema promo Ramadan, zakat, hingga tunjangan hari raya (THR). Intensitas masyarakat dalam berbagi data dan melakukan transaksi digital yang lebih tinggi dibanding periode normal memperluas permukaan serangan bagi pelaku.
“Jika literasi keamanan digital rendah dan proteksi platform lemah, potensi kebocoran data bisa meningkat dibanding periode normal,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan ini.
Ia menjelaskan, kapasitas infrastruktur keamanan digital di Indonesia memang terus berkembang, baik di sektor perbankan, fintech, maupun e-commerce. Namun, lonjakan trafik musiman saat Ramadan tetap menjadi tantangan serius, khususnya bagi pelaku usaha kecil serta platform dengan sistem keamanan yang belum matang.
Dalam periode dengan volume transaksi tinggi, sejumlah serangan siber seperti distributed denial of service (DDoS), credential stuffing, hingga phishing massal cenderung mengalami peningkatan. Ketimpangan standar keamanan antarplatform dinilai masih menjadi celah yang bisa dimanfaatkan pelaku.
Karena itu, tanggung jawab platform digital dan penyedia layanan pembayaran perlu diperkuat, antara lain dengan meningkatkan sistem deteksi penipuan berbasis perilaku, memperkuat enkripsi dan autentikasi dua faktor (2FA), serta mempercepat respons terhadap laporan pengguna.
Edukasi proaktif melalui notifikasi di dalam aplikasi juga dinilai krusial, terutama untuk mengingatkan pengguna terhadap modus musiman seperti donasi palsu atau diskon fiktif. Transparansi dalam penanganan insiden serta mekanisme pemulihan dana yang cepat, lanjutnya, akan berperan penting dalam menjaga kepercayaan publik sekaligus menekan dampak ekonomi akibat kejahatan siber.
“Kerugian tidak hanya berupa dana yang hilang, tetapi juga biaya pemulihan sistem, penurunan kepercayaan konsumen, dan dampak reputasi bagi pelaku usaha,” tuturnya.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan autentikasi dua faktor, menggunakan kata sandi yang kuat dan unik untuk setiap akun, serta tidak sembarangan mengklik tautan promo mencurigakan. Transaksi dianjurkan hanya melalui aplikasi atau situs resmi.
Selain itu, pengguna disarankan rutin memperbarui perangkat lunak, membatasi pembagian data pribadi di media sosial, menghindari penggunaan Wi-Fi publik untuk transaksi finansial, serta mengaktifkan notifikasi transaksi secara real-time agar setiap aktivitas dapat terpantau.
“Segera laporkan aktivitas mencurigakan. Kewaspadaan secara kolektif dan literasi digital adalah kunci utama pencegahan,” jelas Heru, menegaskan bahwa peningkatan kesadaran keamanan siber selama Ramadan menjadi faktor penting dalam menekan risiko kebocoran data pribadi di tengah tingginya aktivitas digital masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia


















































