
Ratuan orang warga Cokrodiningratan menggikuti upacara adat kirab budaya Saparan Cokrodiningratan di Lapangan Parkir Gondolayu Lor pada Minggu (9/8/2026). Harian Jogja-Stefani Yulindriani
Harianjogja.com, JOGJA — Tradisi Saparan kembali digelar masyarakat Cokrodiningratan, Kota Jogja, Minggu (9/8/2026). Upacara adat dan kirab budaya tersebut menjadi momentum untuk melestarikan tradisi Jawa sekaligus memperkuat kerukunan dan kebersamaan warga.
Ketua Panitia Upacara Adat Kirab Budaya Saparan Cokrodiningratan, Dwi Muryanto, mengatakan Saparan merupakan tradisi masyarakat Jawa yang digelar pada bulan Sapar. Tradisi tersebut biasanya diisi dengan doa bersama, selamatan, hingga berbagi makanan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
“Pada siang hari ini kita kembali menggelar acara Upacara Adat Budaya Saparan sebagai wujud kita melestarikan adat dan budaya Jawa yang sarat dengan makna,” ujarnya.
Makna Lemper dan Apam dalam Saparan
Menurut Dwi, makanan yang disajikan dalam tradisi Saparan tidak sekadar hidangan untuk dinikmati bersama. Setiap makanan memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Salah satunya adalah lemper yang dibuat dari ketan dan dibungkus menggunakan daun pisang. Sifat ketan yang lengket dimaknai sebagai simbol kerukunan dan kebersamaan agar hubungan antarwarga semakin erat serta tidak mudah terpecah.
Adapun apam atau apem menjadi simbol permohonan maaf dan pengampunan. Kata apem kerap dikaitkan dengan istilah afwan atau afuwun yang berarti meminta maaf.
“Apem menjadi simbol harapan agar kita senantiasa saling memaafkan, membersihkan hati, dan menjaga hubungan baik dengan sesama,” katanya.
Panitia juga menyiapkan gunungan yang berisi sayuran dan buah-buahan. Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus doa agar masyarakat dijauhkan dari bencana dan memperoleh kemakmuran.
“Sedekah ini supaya berkah dan dibagi ke semua orang,” tutur Dwi.
Sedekah Warga untuk Warga
Dwi menjelaskan seluruh makanan yang disajikan maupun yang nantinya diperebutkan dalam rangkaian Saparan berasal dari sedekah masyarakat.
Makanan tersebut dibuat oleh warga untuk kemudian dinikmati kembali oleh masyarakat di Gondolayu, Kampung Cokrokusuman, dan wilayah sekitarnya.
Sebelum upacara adat dan kirab budaya digelar, rangkaian kegiatan telah diawali dengan lantunan zikir, mujahadah, serta doa tolak bala. Rangkaian tersebut diharapkan menambah keberkahan dalam pelaksanaan tradisi Saparan.
Bagi Dwi, Saparan bukan sekadar tradisi turun-temurun atau kegiatan yang menyajikan makanan tradisional. Tradisi tersebut mengandung berbagai nilai kehidupan yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Nilai tersebut antara lain rasa syukur, kerukunan, saling memaafkan, serta semangat mempererat persaudaraan di tengah masyarakat.
“Sebagai generasi penerus kita memiliki tanggung jawab untuk mengenal dan melestarikan tradisi seperti Saparan. Kita dapat melestarikannya dengan mengikuti kegiatan dengan baik, memahami maknanya, serta tetap menjaga nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya,” katanya.
Saparan Jadi Upaya Nguri-uri Kebudayaan
Lurah Cokrodiningratan Mohammad Roman Feiruz turut mendukung pelaksanaan upacara adat tersebut. Menurutnya, Saparan menjadi salah satu bentuk upaya masyarakat untuk terus nguri-uri atau melestarikan kebudayaan.
“Semoga kegiatan ini dapat terus diselenggarakan,” katanya.
Dengan berbagai rangkaian tradisi, doa, sedekah, dan kebersamaan warga, Saparan Cokrodiningratan tidak hanya menjadi perayaan budaya. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali memperkuat hubungan sosial sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya Jawa kepada generasi muda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































