Harianjogja.com, JOGJA—Kawasan Kotagede kembali menjadi ruang eksplorasi wisata melalui seni sketsa. The 1O1 Jogja Tugu mengajak sekitar 60 peserta menuangkan kekayaan sejarah, budaya, arsitektur, aktivitas masyarakat, hingga kuliner Kotagede dalam rangkaian 12th Anniversary THE 1O1 Yogyakarta Tugu: Sketch Tour Kotagede, Minggu (9/8/2026).
Kegiatan yang digelar di Rumah Prof. Kahar Abdoel Moezakir, Kotagede, tersebut menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-12 hotel sekaligus upaya mendorong kembali geliat wisata Kotagede.
General Manager The 1O1 Jogja Tugu, Wahyu Wikan Trispratiwi, mengatakan Kotagede dipilih karena memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
"Kali ini kami mengangkat Kotagede sebagai satu tempat yang akan di-sketch oleh teman-teman. Kotagede dipilih karena wilayah ini merupakan destinasi wisata kota yang unggulan selain Malioboro," ujarnya di Rumah Prof. Kahar Abdoel Moezakir, Kotagede, pada Minggu (9/8/2026).
Kotagede Diangkat Lewat Karya Sketcher
Wikan mengatakan Kotagede sempat mengalami kondisi yang relatif lesu. Karena itu, diperlukan kegiatan kreatif untuk kembali memperkenalkan kawasan tersebut kepada wisatawan.
"Kotagede sempat agak lesu, kita angkat kembali melalui para sketsa," katanya.
Menurut Wikan, seni sketsa memiliki potensi sebagai media promosi destinasi karena karya yang dihasilkan para sketcher dapat merekam karakter sebuah kawasan secara langsung.
Eksplorasi peserta tidak hanya berfokus pada bangunan. Budaya, aktivitas masyarakat, hingga kuliner juga menjadi bagian dari objek yang dituangkan ke dalam karya.
"Kami melihat bagaimana para sketsa itu bisa menjadi media promosi wisata Kota Jogja melalui budaya, melalui kegiatan aktivitas daripada penduduk dan melalui kuliner," ujarnya.
Konsep tersebut sekaligus diarahkan untuk menyasar wisatawan dengan minat khusus atau quality tourism. Melalui travel sketch, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat destinasi, tetapi juga melakukan aktivitas menggambar selama perjalanan.
"Yang kami bidik bukan mass tourism, tetapi quality tourism. Mereka mau punya minat untuk menggunakan sketsa ini sebagai traveling. Jadi mereka sekalian traveling, tur, tapi juga menggambar," kata Wikan.
Dorong Lama Tinggal Wisatawan di Jogja
Selain menghidupkan kembali aktivitas wisata Kotagede, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap lama tinggal wisatawan di Kota Jogja.
Wikan menyebut rata-rata lama tinggal wisatawan di Kota Jogja saat ini masih sekitar 1,8 hari. Karena itu, kegiatan yang menggabungkan perjalanan wisata dan aktivitas sketsa dinilai menjadi salah satu upaya untuk mendorong wisatawan tinggal lebih lama.
"Bagaimana caranya meningkatkan lama tinggal di Kota Jogja, salah satunya adalah kami mengadakan acara ini," ujarnya.
Dari sekitar 60 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, sebanyak 70 persen berasal dari luar Kota Jogja. Peserta datang dari sejumlah daerah seperti Medan, Banjarbaru, Bandung, Jakarta, Surabaya, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Para peserta telah berada di Jogja sejak Jumat. Rangkaian acara dimulai dengan workshop bersama sejumlah mentor sketsa profesional, dilanjutkan praktik menggambar di kawasan Tugu dan titik nol kilometer serta kegiatan food sketching.
Pada hari berikutnya, peserta diarahkan mengeksplorasi Kotagede. Berbagai objek yang mereka temukan selama perjalanan kemudian dituangkan ke dalam karya sketsa.
Wikan mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi agenda berkelanjutan. Sebelumnya, kegiatan serupa telah digelar pada 2018 dan 2024.
"Ini sudah ketiga. Tahun 2018, 2024, dan saat ini 2026," katanya.
Hasto Apresiasi Upaya Hidupkan Wisata Kotagede
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengapresiasi inisiatif The 1O1 Jogja Tugu yang menghadirkan kegiatan kreatif untuk mendatangkan wisatawan ke Kotagede.
Menurut Hasto, keterlibatan pelaku perhotelan dan komunitas kreatif dapat menjadi bagian penting dalam menghidupkan kembali destinasi yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya.
"Luar biasa kreatif teman-teman dari hotel, PHRI, dan The 1O1 Hotel yang tidak hanya sebagai pengkhidmat kehadiran para tamu mancanegara maupun tamu pariwisata, tetapi juga membuat kegiatan yang akan mendatangkan wisatawan. Ini saya apresiasi," ujarnya.
Hasto berharap Kotagede semakin dikenal sebagai destinasi wisata dengan karakter tersendiri di samping destinasi utama seperti Malioboro.
"Meramaikan Kota Jogja sebagai destinasi wisata dan lebih khusus Kotagede ini menjadi spesial destinasi wisata yang bisa terus dihidupkan," katanya.
Ia juga menilai sejarah dan budaya Kotagede perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda. Museum, bangunan bersejarah, karya seni, serta aktivitas budaya dapat menjadi bagian yang melengkapi pengalaman wisatawan ketika mengeksplorasi kawasan tersebut.
Sketcher Menangkap Karakter Gang Kotagede
Salah satu peserta, Choirul Huda asal Godean, mengikuti kegiatan tersebut karena memiliki kecintaan terhadap seni sketsa sekaligus ingin mengenal lebih jauh budaya Kotagede.
"Saya ikut karena memang senang sketch. Yang kedua memang ingin tahu budaya di Kotagede. Gang-gangnya di Kotagede ini sangat menarik untuk di-sketch," ujarnya.
Dalam eksplorasinya, Choirul memilih menggambar deretan rumah dan gang di Kotagede. Menurutnya, karakter kawasan tersebut memiliki keunikan yang sulit ditemukan di daerah lain.
"Deretan rumah-rumah ini sangat unik. Kalau di daerah lain mungkin tidak ada gang-gang seperti ini. Ada rumah kayu, ini masuk dalam frame sketch saya biar ada identitasnya," katanya.
Choirul telah menekuni seni sketsa sejak sekitar 2015. Ia juga mengikuti berbagai kegiatan komunitas sketsa di Jogja serta aktif dalam komunitas Indonesia Sketchers dan komunitas lukis cat air.
Baginya, sketsa dapat menjadi cara sederhana untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan sebuah kawasan. Dalam menghasilkan karya, ia menggunakan tinta Cina dan kuas sederhana.
"Tinta Cina ini murah sekali, sekitar Rp5.000. Kuasnya diruncingi bisa jadi seperti pena. Sangat murah dibandingkan harus melukis pakai cat minyak atau cat akrilik," ujarnya.
Eksplorasi Kotagede melalui sketsa memberikan pengalaman berbeda bagi Choirul. Peserta dapat mengamati secara langsung detail bangunan, gang, dan kehidupan masyarakat sebelum menuangkannya menjadi karya.
Kegiatan tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi aktivitas seni. Karya para peserta juga menjadi bentuk promosi destinasi yang dapat dibagikan dan diperkenalkan kembali kepada masyarakat luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































