TNI dan Pemerintah Kebut Pemulihan Akses Desa Terisolir di Tapanuli Utara Pasca-Bencana

1 hour ago 1

Ilustrasi gotong royong warga memulihkan akses pasca bencana di Sumatera.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi warga yang wilayahnya terhantam bencana, ketersediaan akses jalan dan jembatan bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan urat nadi harapan untuk menyambung hidup dan memulihkan martabat. Kecepatan pembangunan konektivitas pasca-bencana menjadi kunci utama agar warga terdampak dapat segera mengakses hunian mereka, mendistribusikan logistik, serta membangkitkan kembali roda perekonomian desa yang sempat lumpuh total akibat terputusnya jalur transportasi.

Kecamatan Tukka di Kabupaten Tapanuli Utara secara geografis didominasi oleh perbukitan yang curam dan lembah-lembah hijau, menjadikannya daerah yang sangat subur namun rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Kontur tanah yang bergelombang dan dipengaruhi oleh curah hujan tinggi seringkali memicu pergerakan tanah, sehingga desa-desa di wilayah ini sering menghadapi tantangan isolasi geografis ketika cuaca ekstrem melanda.

Mayoritas penduduk di wilayah ini adalah petani yang menggantungkan hidup pada hasil perkebunan dan pertanian lahan basah, seperti kopi, karet, hingga tanaman palawija. Kondisi warga pasca-bencana 25 November 2025 lalu memaksa sebagian besar dari mereka mengungsi karena 30 rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat dan ringan. Saat ini, warga Desa Sigiring-Giring telah direlokasi sementara ke Rusunawa atau menumpang di rumah kerabat, sementara warga di desa yang lebih tinggi seperti Sait Kalangan II masih bertahan dengan kondisi akses yang serba terbatas.

Kepala Desa Sigiring-Giring, Harapa Polha Sitompul, mengapresiasi kerja keras prajurit TNI dan pemerintah yang bergerak cepat di lapangan. “Kami sangat berterima kasih karena pembukaan akses jalan ini termasuk cepat. Kami berharap ini segera tuntas agar kendaraan bisa lewat untuk mengambil hasil panen maupun bagi warga yang ingin meninjau rumah mereka yang terdampak,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Jumat (30/1/2026).

Di sisi teknis, Komandan Detasemen Zeni Bangunan (Den Zibang) Kodam I Bukit Barisan, Mayor Czi Johan Sianturi, menjelaskan bahwa timnya tengah berupaya menembus 13 titik longsor yang menutup jalan. Fokus utama saat ini adalah membangun enam jembatan baru guna menghidupkan kembali akses dari Desa Hutanabolon menuju Sigiring-Giring yang masih terputus. "Saat ini kami sedang mengerjakan jembatan keempat. Selain jembatan baru, kami juga memperbaiki jembatan permanen yang rusak di sepanjang jalur ini," jelas Mayor Johan.

Pembangunan ini menjadi krusial karena jalan tersebut merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan Desa Hutanabolon dengan Desa Sait Kalangan II dan Desa Saur Manggita. Selama akses ini belum pulih, warga di desa-desa tersebut praktis terisolir akibat timbunan material longsor dan kerusakan infrastruktur jembatan akibat banjir bandang. Dengan sinergi yang terus berjalan, diharapkan seluruh desa di Kecamatan Tukka dapat segera terhubung kembali sebelum masa tanggap darurat berakhir.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|