Newswire Minggu, 09 Agustus 2026 20:47 WIB

Ribuan imigran gelap memasuki wilayah Spanyol/Time
Harianjogja.com, MOSKOW—Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas menyebut jumlah imigran asal Maroko yang masih berada di wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara itu mencapai sekitar 8.000 hingga 11.000 orang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan klaim Pemerintah Spanyol yang menyatakan masih ada sekitar 2.500 migran di Ceuta.
Perbedaan data tersebut muncul setelah Ceuta dilanda gelombang besar kedatangan imigran dari Maroko pada akhir Juli lalu. Menurut Jesus Vivas, kondisi di wilayah kantong Spanyol tersebut hingga kini belum kembali normal.
"Pemerintah (Spanyol) mengeklaim bahwa 2.500 migran masih berada di Ceuta. Data awal menunjukkan bahwa antara 8.000 hingga 11.000 orang masih berada di sana," kata Jesus Vivas dalam sebuah video yang diunggah di platform X oleh kantor berita Europa Press.
Puluhan Ribu Migran Masuk Ceuta
Gelombang kedatangan migran dari Maroko sebelumnya menimbulkan situasi yang cukup besar di Ceuta. Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan sekitar 72.000 migran telah memasuki wilayah Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara tersebut.
Dari jumlah itu, sekitar 70.000 orang disebut telah kembali ke Maroko. Sementara itu, pihak Maroko memperkirakan sekitar 40.000 orang telah memasuki Ceuta, enklave Spanyol di Afrika Utara.
Ceuta merupakan kota otonom Spanyol yang terletak di Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Maroko. Pekan lalu, sekitar 60.000 orang dilaporkan menyeberang ke wilayah tersebut hanya dalam satu hari, sementara Ceuta sendiri memiliki populasi sekitar 85.000 jiwa.
Kondisi tersebut membuat lonjakan kedatangan migran menjadi persoalan besar bagi wilayah yang berbatasan dengan Maroko tersebut.
Spanyol Bersiap Hadapi Gelombang Baru
Di tengah krisis migrasi yang belum sepenuhnya mereda, Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan siap menghadapi upaya baru imigran ilegal dari Maroko yang hendak memasuki Ceuta.
Pernyataan tersebut dilaporkan surat kabar 20minutos pada Jumat. Radio Cadena SER juga melaporkan, dengan mengutip sumbernya, bahwa gelombang baru imigran dari Maroko menuju Ceuta mungkin terjadi sebelum 15 Agustus.
“Kami akan siap menangani situasi ini,” kata seorang sumber di Kemendagri Spanyol kepada surat kabar tersebut.
Sebelumnya, sejumlah pejabat dari negara anggota Uni Eropa, termasuk Denmark, Italia, Republik Ceko, dan Finlandia, telah menyerukan penangguhan sementara keanggotaan Spanyol dalam kawasan Schengen.
Sementara krisis migrasi berlangsung, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez sebelumnya menyatakan jajarannya memperketat penjagaan keamanan selama dirinya berlibur di Kepulauan Canary.
Sanchez juga mewajibkan seluruh pengunjung kediamannya menyerahkan ponsel mereka terlebih dahulu. Surat kabar La Razon yang mengutip sejumlah sumber melaporkan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk sepenuhnya menghilangkan kemungkinan terjadinya spionase elektronik.
Pada Selasa, portal berita Okdiario melaporkan Sanchez telah berangkat ke Kepulauan Canary untuk berlibur meskipun krisis migrasi masih berlangsung di wilayah Spanyol, termasuk Ceuta.
Sementara itu, Jesus Vivas menegaskan bahwa situasi Ceuta belum kembali normal setelah lonjakan tajam kedatangan imigran dari negara tetangga, Maroko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































