Ada Klaim Trump Coba Pakai Kode Nuklir Lawan Iran, Tapi Disetop Kepala Staf Militer, Ini Faktanya

1 hour ago 1

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington, Sabtu (18/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN --  Sebuah klaim yang menuduh Presiden Donald Trump mencoba menggunakan kode nuklir selama 'pertemuan panas' bahas Iran pada Sabtu malam viral di media sosial. Klaim itu dilontarkan tanpa sebuah bukti.  

Seorang juru bicara Gedung Putih mengatakan kepada Newsweek bahwa klaim tersebut salah dan mengkritik penyebarannya. Newsweek telah menghubungi Pentagon untuk meminta komentar. Tapi belum ada komentara. 

Klaim tersebut berasal dari komentar yang dibuat oleh mantan perwira CIA Larry Johnson selama penampilannya pada 20 April di Judging Freedom, sebuah podcast dan acara bincang-bincang YouTube yang dipandu oleh mantan analis hukum Fox News, Andrew Napolitano.

Johnson menuduh bahwa sesi darurat di Gedung Putih berubah menjadi konfrontatif ketika Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, dilaporkan mempertahankan pendiriannya terhadap arahan presiden.

Menurut Johnson, perselisihan tersebut tampaknya merupakan pertengkaran hebat yang mengakibatkan Jenderal Caine diduga menolak untuk memfasilitasi penggunaan "apa yang disebut kode nuklir."

Sebagai bukti, podcast tersebut menampilkan rekaman Caine berjalan di halaman Gedung Putih dengan kepala tertunduk. Kemudian dalam episode tersebut, Napolitano menunjukkan rekaman sang jenderal berjalan di luar halaman Gedung Putih dengan kepala tertunduk.

Namun, Newsweek belum menemukan penguat independen atas pertengkaran ini. Meskipun pertemuan tingkat tinggi memang terjadi pada 18 April untuk membahas berakhirnya gencatan senjata Iran, tidak ada organisasi berita atau pejabat pemerintah yang kredibel dapat memverifikasi bahwa wewenang peluncuran nuklir pernah digunakan.

Beberapa anggota Partai Republik juga menyatakan skeptisisme tentang tuduhan tersebut. "Saya harus melihat beberapa konfirmasi dari sumber sebelum saya bahkan menanggapi pertanyaan itu," kata Senator Carolina Utara Thom Tillis kepada Newsweek.

"Saya tidak bisa membayangkannya. Anda tahu presiden, saya tidak bisa membayangkan itu pernah menjadi pertimbangan serius."

Newsweek menghubungi Johnson melalui email untuk meminta komentar.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|