Anak Pendek Nggak Selalu Stunting, Gangguan Hormon Bisa Jadi Penyebabnya

8 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hingga kini masih banyak orang tua yang menganggap tinggi badan anak hanya dipengaruhi oleh faktor keturunan dan asupan gizi. Padahal, proses pertumbuhan anak merupakan hasil interaksi berbagai faktor, termasuk sistem endokrin yang mengatur produksi hormon pertumbuhan.

Dokter spesialias anak subspesialis endokrinologi, Prof Dr dr Aman Bhakti Pulungan, mengatakan pertumbuhan normal anak merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor genetik, gizi, kondisi sosial ekonomi, lingkungan, hingga hormon. Karena itu, pertumbuhan anak tidak bisa hanya dikaitkan dengan genetik atau gizi saja.

"Jadi bukan hanya ditentukan oleh genetik saja, atau gizi saja, tapi ada banyak faktor yang mempengaruhi. Bahkan nih ada contoh, anak kembar identik yang memiliki materi genetik sama, tinggi badan saat dewasa bisa berbeda," kata Prof Aman dalam diskusi virtual dipantau di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Ia mengatakan di negara dengan empat musim, misalnya, pola pertumbuhan anak berbeda pada setiap musim karena paparan sinar matahari yang tidak sama. Kondisi psikososial juga dapat memengaruhi pertumbuhan, di mana anak yang mengalami stres psikososial berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.

Selain itu paparan asap rokok dari orang tua dapat menghambat pertumbuhan anak. Urbanisasi juga sering kali dikaitkan dengan pertumbuhan yang lebih baik. Prof Aman mencontohkan masyarakat Vietnam yang berpindah ke Amerika Serikat cenderung memiliki tinggi badan lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.

"Terus kalau kita lihat Jepang sekarang kan tinggi-tinggi. Kakek nenek kita mungkin bilang Jepang zaman dulu pendek. Tapi karena ada peningkatan layanan kesehatan, asupan nutrisi, dan pendukung lain sekarang orang Jepang banyak yang tinggi. Ini yang disebut juga secular trend," kata Prof Aman.

Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak langsung menyimpulkan anak bertubuh pendek sebagai stunting. Jika berat badan anak tetap baik sementara tinggi badannya tidak bertambah sesuai usia, kondisi tersebut belum tentu disebabkan oleh kekurangan gizi atau stunting.

"Kalau berat badannya oke, sementara panjang atau tinggi badannya tidak naik, maka anak itu pendek bukan karena stunting. Stunting juga harus disertai faktor kurang gizi," kata Prof Aman.

Karena itu, memberikan susu atau makanan dalam jumlah lebih banyak agar anak tinggi tidak selalu menjadi solusi. Jika status gizi anak sebenarnya sudah baik, pemberian asupan berlebih justru dapat meningkatkan risiko obesitas.

"Kalau gizinya sudah oke, malah anak bisa obesitas. Makanya lebih baik konsultasi ke dokter anak untuk dicari penyebabnya," kata Prof Aman.

Prof Aman mengatakan, gangguan pertumbuhan pada anak juga dapat disebabkan oleh faktor hormon. Sistem endokrin berperan penting dalam mengatur pertumbuhan melalui berbagai hormon yang diproduksi tubuh. Ketika terjadi gangguan hormon, pertumbuhan tinggi badan anak dapat melambat meskipun kebutuhan gizinya sudah tercukupi.

Untuk mengetahui apakah pertumbuhan anak bermasalah atau tidak, orang tua disarankan rutin memantau tinggi dan berat badan menggunakan kurva pertumbuhan. Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan penggunaan kurva pertumbuhan WHO 2006 untuk anak usia 0-5 tahun dan kurva CDC 2000 untuk anak usia di atas 5 tahun. Kurva tersebut dibedakan berdasarkan jenis kelamin.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|