Buya Hamka dalam Pandangan Akademisi

3 hours ago 2

Image FADLILLAH

Humaniora | 2026-07-11 02:10:55

Penulis: Fadlillah

(Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Buya Hamka merupakan salah satu tokoh yang memiliki posisi istimewa. Ia tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai sastrawan, jurnalis, pemikir, dan tokoh pembaharu Islam. Karena kiprahnya yang luas di berbagai bidang, banyak ahli ilmu pengetahuan yang memandang Hamka sebagai sosok intelektual yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan perkembangan masyarakat modern. Pengaruh pemikirannya bahkan dinilai turut berkontribusi dalam membentuk corak intelektual Muslim Indonesia pada abad ke20.

Salah satu aspek yang sering dibahas para peneliti adalah kemampuan Hamka dalam kedekatan ajaran Islam dengan realitas sosial yang menghadap masyarakat. Berbeda dengan sebagian ulama yang lebih menitikberatkan pembahasan pada aspek normatif dan tekstual, Hamka berusaha menghadirkan Islam dalam bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gagasan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai karya, seperti Tafsir Al-Azhar, Tasawuf Modern, maupun sejumlah novel yang ditulisnya. Menurut banyak pakar, pendekatan seperti ini membuat pemikiran Hamka lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan, baik masyarakat umum maupun kelompok intelektual.

Dalam kajian tafsir Buya Hamka, sering dianggap sebagai mufasir yang memiliki pendekatan kontekstual. Melalui Tafsir Al-Azhar, ia tidak hanya menjelaskan makna ayat secara tekstual, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan sosial, pendidikan, moralitas, dan kondisi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, tafsir yang ditulisnya tidak hanya berfungsi sebagai penjelasan keagamaan, tetapi juga menjadi media refleksi terhadap berbagai permasalahan masyarakat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Hamka sering memanfaatkan pengalaman pribadi, pendekatan historis, serta pengamatan sosial dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an.

Dari perspektif sastra, Hamka juga memperoleh perhatian yang cukup besar. Karya-karya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah masih menjadi objek pembahasan hingga saat ini. Para pelajar melihat novel-novel tersebut bukan hanya sebagai karya sastra romantis, melainkan juga sebagai bentuk kritik terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang pada masanya. Melalui cerita dan tokoh-tokohnya, Hamka mengangkat isu tentang adat, kelas sosial, pendidikan, dan kebebasan individu. Dengan cara yang lebih halus dan persuasif, ia menyampaikan pesan-pesan pembaruan tanpa harus terlibat dalam retorika politik yang konfrontatif.

Hal lain yang sering mendapat apresiasi dari kalangan akademik adalah perjalanan intelektual Hamka yang sebagian besar dibangun secara otodidak. Meskipun tidak menempuh pendidikan formal yang panjang seperti banyak cendekiawan lainnya, Hamka dikenal sebagai sosok yang memiliki minat baca yang sangat tinggi. Ia mempelajari berbagai karya pemikir Islam dari Timur Tengah sekaligus membaca sastra Barat. Luasnya referensi yang dibaca membuat perspektif Hamka menjadi lebih terbuka dan tidak terbatas pada satu tradisi pemikiran tertentu.

Pengakuan terhadap kapasitas intelektual Hamka juga terlihat dari berbagai penghargaan akademik yang diterimanya. Pada tahun 1958, ia memperoleh gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar di Kairo. Selanjutnya, pada tahun 1974, Universitas Kebangsaan Malaysia juga memberikan penghargaan serupa. Data ini menunjukkan bahwa kontribusi Hamka tidak hanya diakui di Indonesia, namun juga mendapat apresiasi dari dunia internasional. Oleh karena itu, sejumlah ilmuwan menempatkan Hamka sebagai salah satu intelektual Muslim yang paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, pandangan akademisi terhadap Hamka tidak selalu bersifat positif tanpa kritik. Beberapa peneliti mencoba meninjau kembali sejumlah gagasannya, terutama yang berkaitan dengan identitas Melayu, budaya lokal, dan hubungan antara agama dengan kehidupan sosial. Kritik tersebut umumnya muncul karena pemikiran Hamka dianggap lahir dari konteks sosial-politik tertentu yang berbeda dengan kondisi saat ini. Namun, justru dari berbagai kejadian tersebut terlihat bahwa pemikiran Hamka masih memiliki relevansi dan terus menjadi bahan diskusi di kalangan akademik.

Secara keseluruhan, Buya Hamka dipandang sebagai tokoh yang berhasil melampaui batas-batas disiplin ilmu. Ia bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang intelektual yang aktif berbicara tentang sastra, budaya, pendidikan, dan kehidupan sosial. Hingga saat ini, karya-karyanya masih banyak digunakan sebagai referensi dalam penelitian di bidang studi Islam, sastra Indonesia, sejarah, maupun pemikiran sosial. Dengan demikian, Hamka tidak hanya memiliki nilai historis sebagai tokoh bangsa, tetapi juga tetap relevan sebagai sumber inspirasi intelektual bagi generasi masa kini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|