REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Paparan polusi, sinar ultraviolet, perubahan cuaca, serta penggunaan berbagai produk perawatan dapat memengaruhi kondisi kulit dari waktu ke waktu. Kondisi tersebut membuat fungsi skin barrier atau lapisan pelindung kulit menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan kulit.
Konsep tersebut berkaitan dengan exposome, yakni keseluruhan paparan dari lingkungan dan aktivitas sehari-hari yang dapat memengaruhi kondisi tubuh, termasuk kulit. Faktor eksternal tersebut dapat berinteraksi dengan kondisi kulit dan memengaruhi sensitivitas maupun fungsi pelindungnya.
Pembahasan mengenai skin barrier menjadi salah satu topik dalam Aruna International Summit 2026 yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) pada 4–5 September 2026 di Jakarta.
Forum bertema “Beyond Borders, Beneath the Skin: Global Aesthetics for Skin of All Color” tersebut membahas perkembangan dermatologi, termasuk pendekatan perawatan kulit untuk berbagai kondisi dan warna kulit.
Salah satu seminar dalam forum tersebut membahas pemeliharaan dan perbaikan fungsi skin barrier berdasarkan bukti ilmiah. Facerinna turut mendukung seminar “Building Resilient Skin in the Exposome Era: Advancing Evidence-Based Barrier Repair”.
Medical Advisor Facerinna dr. Heru Nugraha mengatakan, kondisi skin barrier perlu dilihat sebagai salah satu aspek dalam perawatan kulit, bukan hanya ketika kulit mengalami gangguan.
“Ketahanan kulit tidak hanya ditentukan oleh satu kandungan aktif. Formulasi yang durable, aman, dan nyaman untuk kulit sensitif juga menjadi bagian penting dari perawatan kulit,” ujar Heru dalam siaran pers, Jumat (11/9/2026).
Menurut Heru, pemilihan perawatan juga perlu mempertimbangkan data mengenai efektivitas dan tolerabilitasnya. Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan di tengah banyaknya produk dan bahan aktif yang tersedia di pasar.
“Riset Facerinna menunjukkan adanya perbaikan pada skin barrier dan berbagai parameter yang berkaitan dengan kesehatan skin barrier. Temuan seperti ini penting untuk terus mendorong pendekatan perawatan kulit yang berbasis bukti,” lanjutnya.
Perkembangan industri skincare membuat konsumen semakin mudah menemukan produk yang ditujukan untuk berbagai masalah kulit. Namun, banyaknya pilihan juga membuat informasi mengenai keamanan, efektivitas, dan tolerabilitas menjadi penting sebelum suatu produk digunakan sebagai bagian dari rutinitas perawatan.
Pendekatan evidence-based skincare menempatkan hasil penelitian dan data klinis sebagai salah satu dasar dalam menilai manfaat suatu produk. Dengan pendekatan tersebut, penggunaan bahan aktif tidak hanya mengikuti popularitas atau tren, tetapi mempertimbangkan bukti mengenai manfaat dan keamanannya.
Kondisi skin barrier juga berkaitan dengan perawatan kulit berjerawat. Penanganan jerawat dapat melibatkan bahan aktif tertentu, sementara penggunaan produk yang tidak sesuai atau rutinitas yang terlalu agresif berpotensi memengaruhi kondisi lapisan pelindung kulit.
Karena itu, perawatan kulit mulai dilihat tidak hanya dari kemampuan mengatasi masalah tertentu, tetapi juga dari bagaimana mempertahankan fungsi pelindung kulit. Konsep resilient skin merujuk pada kondisi kulit yang mampu mempertahankan fungsi dan keseimbangannya ketika menghadapi berbagai paparan.
Penelitian klinis menjadi salah satu pendekatan yang digunakan industri dalam mengevaluasi formulasi perawatan kulit. Parameter yang dinilai dapat mencakup efektivitas dan tolerabilitas, sehingga penggunaan produk memiliki dasar yang lebih terukur.
Dalam konteks tersebut, kebutuhan terhadap penelitian dermatologi juga berkaitan dengan karakteristik kulit masyarakat Indonesia serta kondisi lingkungan yang dihadapi sehari-hari. Pemahaman mengenai interaksi antara paparan lingkungan, kondisi kulit, dan penggunaan produk menjadi salah satu aspek dalam perkembangan perawatan kulit.
Perubahan pendekatan ini menunjukkan bahwa perawatan kulit tidak hanya berkaitan dengan penanganan masalah yang sudah muncul. Pemahaman mengenai paparan lingkungan dan fungsi skin barrier membuka ruang bagi pendekatan yang lebih menyeluruh, dengan bukti ilmiah sebagai salah satu dasar dalam menentukan perawatan yang sesuai.

6 hours ago
5
















































