REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gurun Taklimakan yang selama berabad-abad dijuluki "Laut Kematian" kini menunjukkan wajah berbeda. Di tengah hamparan pasir yang dikenal ekstrem dan nyaris mustahil ditanami, sebuah lahan di pinggiran gurun itu berhasil memanen sekitar 976 ton gandum.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil pengembangan varietas gandum hibrida oleh ilmuwan China yang dinilai membuka peluang baru bagi pertanian di kawasan gurun.
Panen tersebut berasal dari lahan seluas 93 hektare di Kabupaten Makit, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur. Lahan itu dikelola Wang Yufeng, seorang petani yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang pakaian. Ia menginvestasikan lebih dari 2 juta yuan atau sekitar 294 ribu dolar AS untuk menanam varietas gandum hibrida Jingmai 189 yang dikembangkan Akademi Ilmu Pertanian dan Kehutanan Beijing, sebagaimana diberitakan pada Jumat (3/7/2026).
Kabupaten Makit berada di tepi barat daya Gurun Taklimakan dan dikelilingi gurun di tiga sisinya. Curah hujan di wilayah tersebut kurang dari 100 milimeter per tahun, sedangkan tingkat penguapan mencapai lebih dari 2.000 milimeter. Kondisi itu membuat sebagian besar wilayahnya selama ini dikenal sangat sulit dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
Meski demikian, varietas Jingmai 189 mampu tumbuh dengan baik di tanah salin-alkali yang memiliki kadar garam tinggi. Benih tersebut merupakan hasil penelitian selama sembilan tahun dan dirancang memiliki ketahanan terhadap kekeringan, suhu rendah, penyakit tanaman, serta kondisi tanah yang buruk.
Keberhasilan panen di Gurun Taklimakan bukan sekadar peningkatan produksi pangan. Para peneliti menyebut proyek tersebut juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengendalikan penggurunan dan memperbaiki kualitas lingkungan di kawasan gurun.
"Ini bukan hanya tentang produksi biji-bijian, tetapi juga tujuan jangka panjang pengendalian gurun," kata ahli agronomi senior Akademi Ilmu Pertanian dan Kehutanan Beijing, Ren Liping.
Menurut Ren, musim tanam gandum berlangsung sekitar 240 hingga 260 hari, mulai akhir September hingga akhir Juni tahun berikutnya. Selama periode tersebut, tanaman berfungsi sebagai pelindung alami yang membantu mengurangi terpaan angin serta menahan pergerakan pasir pada musim dingin.
Sistem perakaran gandum hibrida yang kuat juga mampu mengikat pasir sehingga mengurangi erosi. Setelah panen, jerami yang dibenamkan kembali ke dalam tanah membantu memperkaya mikroorganisme dan meningkatkan kesuburan tanah secara bertahap.
Varietas Jingmai 189 sebelumnya diuji di lahan salin-alkali pesisir China utara. Namun, hasil terbaik justru diperoleh ketika ditanam di lahan percobaan dekat Gurun Taklimakan yang memiliki tingkat salinitas rata-rata mencapai 8,6 bagian per seribu atau masuk kategori salin-alkali sangat berat.
sumber : Xinhua

10 hours ago
6















































