REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG, – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada April 2026 mencapai 2,62 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,89. Peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada Maret 2026 yang tercatat sebesar 2,40 persen.
Menurut Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, kenaikan inflasi ini terjadi karena adanya peningkatan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok dengan kontribusi inflasi tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,01 persen, diikuti oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,88 persen. Sementara itu, kelompok pendidikan mengalami deflasi dengan andil sebesar 2,6 persen.
Komoditas utama yang mendorong inflasi pada April 2026 adalah emas perhiasan dengan andil tertinggi 0,87 persen, diikuti angkutan udara sebesar 0,35 persen. Komoditas lain yang ikut berkontribusi adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan bahan bakar rumah tangga.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menghambat inflasi tahunan, antara lain ikan tembang dengan andil minus 0,14 persen, biaya pendidikan sekolah menengah atas minus 0,01 persen, bawang putih minus 0,05 persen, serta pisang dan sawi hijau masing-masing minus 0,04 persen.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), NTT juga mengalami inflasi sebesar 0,43 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 1,79 persen. Kenaikan harga bulanan terjadi pada 9 dari 11 kelompok pengeluaran, dengan komoditas utama penyumbang inflasi bulanan antara lain cabai rawit, angkutan udara, tomat, bahan bakar rumah tangga, dan telepon seluler.
Secara spesifik, inflasi tertinggi terjadi di Waingapu sebesar 3,49 persen dengan IHK sebesar 112,91, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Ngada sebesar 2,03 persen dengan IHK sebesar 110,38.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

6 hours ago
2

















































