REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Setidaknya 11 warga Palestina syahid di Jalur Gaza dalam serangan terbaru Israel sejak Ahad. Serangan-serangan tersebut merupakan pelanggaran gencatan senjata terkini menjelang pertemuan Dewan Perdamaian alias Board of Peace (BoP) di Washington pekan ini.
Pasukan Israel menargetkan tenda-tenda yang menampung orang-orang di kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara pada Ahad, menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, sumber rumah sakit mengatakan kepada Aljazirah.
Setidaknya lima orang lainnya syahid dalam serangan Israel di sebelah barat Khan Younis di selatan Jalur Gaza. Sedangkan Sami al-Dahdouh, seorang komandan sayap bersenjata Jihad Islam Palestina (PIJ), gugur dalam serangan Israel di lingkungan Tal al-Hawa di timur Kota Gaza.
Juru bicara Hamas Hazem Qassem mengutuk serangan Israel sebagai “pembantaian baru” dan “eskalasi kriminal”. Dia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan “upaya yang jelas untuk memaksakan kenyataan berdarah di lapangan dan mengirimkan pesan bahwa semua upaya dan badan yang peduli untuk menciptakan ketenangan di Gaza tidak ada artinya, dan bahwa pendudukan terus melanjutkan agresinya meskipun semua pihak berbicara tentang perlunya mematuhi perjanjian gencatan senjata”.
Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 600 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.600 lainnya sejak “gencatan senjata” antara Israel dan Hamas yang dimediasi Amerika Serikat dan Qatar mulai berlaku pada 10 Oktober. Gencatan itu merupakan bagian dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang genosida Israel selama dua tahun terhadap warga Palestina di Gaza.
Israel telah melanggar “gencatan senjata” setidaknya 1.620 kali sejak 10 Oktober 2025 hingga 10 Februari 2026, menurut laporan Kantor Media Pemerintah di Gaza. Israel juga menuduh Hamas melanggar perjanjian tersebut. Mereka melaporkan empat tentara tewas diserang pejuang.
Serangan terbaru ini terjadi ketika Trump mengumumkan bahwa pertemuan pertama “Dewan Perdamaian” yang baru dibentuknya akan berlangsung pada hari Kamis di Washington, DC. Trump menulis dalam sebuah postingan di Truth Social pada Ahad bahwa para anggotanya telah menjanjikan lebih dari 5 miliar dolar AS untuk membangun kembali Gaza yang hancur akibat perang, dan menyerahkan “ribuan personel ke Pasukan Stabilisasi Internasional dan Polisi Lokal untuk menjaga Keamanan dan Perdamaian bagi warga Gaza.”
AS telah meminta negara-negara untuk membayar 1 miliar dolar AS untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian, yang menunjukkan lima negara mungkin telah berjanji untuk melakukannya.
"Ada laporan bahwa Uni Emirat Arab adalah negara pertama yang mengambil langkah maju dalam janji senilai miliaran dolar ini. Ada juga laporan bahwa Kuwait mungkin akan ikut serta. Masih ada tiga negara lain yang tampaknya belum mengumumkannya kepada publik," tulis koresponden Aljazirah.
Tidak jelas berapa banyak dari 20 anggota dewan yang akan hadir pada pertemuan tersebut. Awalnya dianggap sebagai mekanisme untuk mengakhiri perang Gaza, dewan direksi Trump telah terbentuk dengan ambisinya untuk mendapatkan mandat yang lebih luas untuk menyelesaikan konflik di seluruh dunia, yang tampaknya merupakan upaya AS untuk mengabaikan PBB. Beberapa sekutu utama AS telah menolak untuk bergabung dalam dewan tersebut.
Trump juga mengatakan dalam postingannya bahwa “Hamas harus menjunjung tinggi komitmennya terhadap Demiliterisasi Penuh dan Segera”. Qassem dari Hamas meminta Dewan Perdamaian untuk menekan Israel agar berhenti melanggar gencatan senjata dan “memaksanya untuk melaksanakan apa yang telah disepakati tanpa penundaan atau manipulasi”.

2 hours ago
1















































