Rudal Iran jatuh di kawasan Lembah Yordania, Senin (8/6/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Untuk pertama kalinya, pejabat Israel mengakui mendapat bantuan dari Uni Emirat Arab (UEA) selama diserang Iran sebagai balasan atas aksi entitas Zionis bersama AS. UEA disebut ikut mencegah rudal balistik Iran mencapai wilayah Israel.
Menteri Transportasi dan Keselamatan Jalan Israel, Miri Regev, menjadi pejabat Israel pertama yang secara terbuka mengakui adanya kerja sama keamanan dengan Uni Emirat Arab (UEA) selama konflik dengan Iran. Pernyataan itu sekaligus memperkuat berbagai laporan media dalam beberapa bulan terakhir yang sebelumnya belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Israel.
Harian Israel Maariv melaporkan, Regev menyampaikan pengakuan tersebut dalam wawancara dengan Galei Tzahal atau Radio Angkatan Darat Israel saat membahas ancaman rudal balistik Iran terhadap kawasan.
"Mereka memahami bahwa rudal balistik merupakan salah satu tantangan terbesar. Emirat membantu kami," kata Regev, seperti dikutip Maariv.
Pernyataan itu menjadi konfirmasi resmi pertama dari seorang menteri Israel bahwa UEA memberikan bantuan kepada Israel selama konflik dengan Iran. Sebelumnya, dugaan kerja sama kedua negara hanya muncul melalui berbagai laporan media Israel maupun internasional tanpa adanya pengakuan dari pemerintah.
Komentar Regev muncul setelah berbulan-bulan beredar spekulasi mengenai koordinasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Israel dan UEA selama perang dengan Iran.
Perjanjian Abraham yang Kontroversial
Salah satu laporan yang paling banyak menjadi rujukan berasal dari Axios. Mengutip dua pejabat senior Israel dan seorang pejabat senior Amerika Serikat, media tersebut melaporkan bahwa Israel mengerahkan satu sistem pertahanan udara Iron Dome ke UEA pada awal pecahnya konflik.
Menurut laporan itu, pengerahan tersebut juga melibatkan personel militer Israel yang bertugas mengoperasikan sistem pertahanan udara tersebut.
Axios menyebut langkah itu mencerminkan tingkat kerja sama intelijen dan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Israel dan Uni Emirat Arab, dua negara yang menormalisasi hubungan diplomatik melalui Kesepakatan Abraham pada 2020.
Hingga kini, pemerintah UEA belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Regev maupun laporan mengenai dugaan pengerahan sistem pertahanan udara Israel di wilayahnya.

8 hours ago
3












































