Bendera Iran.
Harianjogja.com, IRAN—Kepolisian Iran menyatakan situasi di seluruh wilayah negara itu telah kembali kondusif, sehari setelah pecahnya kerusuhan publik yang dipicu tekanan ekonomi dan melemahnya mata uang rial. Pemerintah memastikan aktivitas sosial di berbagai kota berjalan normal.
Juru bicara Kepolisian Iran Saeed Montazer Al-Mahdi menyebut hanya terdapat sejumlah kecil insiden di beberapa kota yang melibatkan kelompok yang dikategorikan sebagai teroris. Menurut pengamatan di lapangan, kondisi keamanan nasional berada dalam kendali aparat.
Gelombang protes di Iran muncul sejak akhir Desember 2025 seiring lonjakan nilai tukar dolar AS di pasar bebas yang berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok. Inflasi tinggi dan tekanan ekonomi menjadi pemicu utama keresahan publik.
"Menurut pengamatan di lapangan, situasi sosial di berbagai kota di seluruh negeri sudah tenang," kata Al-Mahdi seperti dikutip oleh kantor berita Iran IRNA pada Jumat.
Juru bicara kepolisian tersebut menjelaskan bahwa hanya ada sejumlah kecil kasus di beberapa kota yang melibatkan kelompok-kelompok yang ia sebut sebagai "teroris."
Aksi protes di Iran dimulai pada akhir Desember di tengah melemahnya mata uang lokal, rial Iran. Para pengunjuk rasa mengeluhkan gejolak nilai tukar yang tajam dan dampaknya terhadap harga grosir dan eceran.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengancam otoritas Iran di tengah protes tersebut. Pada Jumat, Trump mengatakan bahwa Washington akan terlibat dan akan "menghantam mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka" jika para pengunjuk rasa terbunuh selama kerusuhan di Iran.
Sebelumnya pada Jumat, media Iran melaporkan bahwa para pengunjuk rasa merusak properti pribadi dan negara di Teheran.
Sementara itu, walikota ibu kota itu, Alireza Zakani, berbicara tentang serangan yang dilakukan oleh peserta kerusuhan publik pada 8 Januari terhadap fasilitas pasukan keamanan, pembakaran bus dan truk pemadam kebakaran, serta penyerangan terhadap bank.
Sementara itu, televisi pemerintah melaporkan adanya korban jiwa selama peristiwa tersebut, tetapi tidak menyebutkan dari pihak mana mereka berasal. Iran sedang mengalami periode inflasi tinggi, dengan Bank Sentral menetapkan tingkat inflasi tahunan sebesar 38,9 persen.
Nilai tukar dolar AS yang tidak resmi, yang berada di sekitar 50.000 rial (sekitar Rp842) sebelum penarikan AS dari kesepakatan nuklir pada Mei 2018, kini telah melonjak menjadi sekitar 1,4 juta rial (sekitar Rp23.595) di pasar terbuka.
Pemerintah Iran menyatakan akan terus menjaga stabilitas nasional di tengah tekanan ekonomi dan dinamika geopolitik global yang masih berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara


















































