REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog Cakra Medika Ayu S Sadewo, SPsi, mengatakan remaja sering mengikuti tren karena kebutuhan diterima teman sebaya dan rasa takut ketinggalan, atau fear of missing out (FOMO). “Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung,” katanya, Rabu (28/1/2026).
Selain kebutuhan akan penerimaan, rasa ingin tahu mendorong remaja mencoba hal-hal baru. Tren yang ramai dibicarakan sering dianggap bagian dari proses memahami diri sendiri dan menentukan pilihan.
“Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka, dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’,” tambah psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
Fenomena ini terlihat pada tren gas tertawa atau whip pink yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Gas tertawa adalah nitrous oxide (NO2), zat yang biasanya digunakan secara medis sebagai anestesi, tetapi disalahgunakan secara rekreasional karena menimbulkan efek euforia sesaat.
Sementara Whip pink adalah salah satu merek tabung nitrous oxide yang sering muncul dalam perbincangan tersebut. Kepopuleran tren ini mencuat setelah kematian pemengaruh sekaligus kreator konten beberapa waktu lalu yang dikaitkan oleh warganet dengan penggunaan gas tersebut, meski hingga kini penyebab kematian belum dipastikan pihak berwenang.
Ayu menekankan, banyak remaja sebenarnya tidak sepenuhnya memahami dampak tren yang diikuti. Fokus mereka lebih pada validasi sosial, merasa diakui, dan diyakini mampu mengambil keputusan sendiri seperti teman-temannya.
Fenomena whip pink menjadi peringatan tentang bagaimana tren di media sosial dapat memengaruhi perilaku remaja, sekaligus menekankan pentingnya pemahaman risiko sebelum mengikuti sesuatu yang populer.
sumber : Antara

9 hours ago
4















































