Sepak Bola, Kekuasaan, dan Moralitas

4 hours ago 3

Jutaan warga Spanyol menyambut kehadiran para pemain tim nasional Spanyol saat parade kemenangan Piala Dunia 2026 di pusat kota Madrid, Spanyol, Senin (20/7/2026).

Oleh: M Faruq Ridwan, Pendakwah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Akhirnya pesta sepakbola World Cup (Piala Dunia) berakhir sudah. Spanyol tampil gemilang di final mengalahkan tim tango Argentina 1-0. Setelah 15 tahun "pencarian" akhirnya piala dunia sepakbola kembali ke Spanyol.

Kembalinya piala dunia ke Spanyol mengingatkan pada sebuah lagu "Spanish Heart" Gerrard Jolling tentang pencarian seorang pengelana ke berbagai belahan dunia dan akhirnya kembali lagi ke Spanyol karena ada gadis pujaannya disana.

Walau tim Tango Argentina tampil meyakinkan sejak awal putaran sampai ke babak final tapi perjalanan menyisakan aroma tidak sedap, dari kontroversi keputusan wasit yang menguntungkan Argentina di lapangan dan keberpihakan FIFA yang menurut sebagian orang "mengatur" perjalanan mulus Argentina menuju final.

Apalagi beredar foto kedekatan Messi dengan Infantino dan Trump di VIP hingga menimbulkan teori konspirasi: FIFA ingin Argentina juara lagi demi rating yang viral di medsos.

Beberapa perilaku pemain Argentina yang membuat orang tidak simpatik di dalam dan di luar lapangan pertandingan, arogansi, suka memprokasi emosi lawan dan gaya bermain "anti-football". Tapi jauh dari itu, yang membuat orang lebih anti terhadap Argentina adalah dukungan mereka terhadap Israel. Tidak heran setiap pertandingan Argentina, orang2 meneriakkan "free Palestine".

Mungkin kekalahan 1-0 melawan tim Spanyol bisa dianggap sebagai "karma" perbuatan mereka, tidak perlu sedih dan ditangisi. "DON'T CRY FOR ME ARGENTINA!"

Salah satu isu paling panas di World Cup 2026 adalah menyentuh 3 hal penting yakni Fair Play, Independensi FIFA, dan Politik seperti dlm kasus intervensi Kartu Merah Folarin Balogun oleh Donald Trump.

Seharusnya olahraga/sepakbola yang menjunjung tinggi sikap sportifitas jangan sampai dicemari kepentingan-kepentingan, apalagi kekuasaan politik, tapi pada kenyataannya di hampir penghelatan olahraga yang bersifat internasional seperti di olimpiade sering dikaitkan dengan isu-isu politik, apalagi ketika masih berlangsung terjadinya perang dingin antara blok Barat dan blok Timur, antara Amerika cs dan Uni Soviet cs.

Puncak final Piala Dunia kali ini dianggap sebagian orang adalah pertarungan puncak ideologis antara Spanyol pendukung Palestina dan Argentina pendukung Israel. Dan di Gaza bersukaria dengan kemenangan tim Spanyol.

Dulu di Yunani kuno olahraga dipercaya sebagai jalan/arete mencapai keunggulan/virtue. Seperti Plato & Aristoteles bilang: "Mens sana in corpore sano" - Jiwa yang sehat ada di tubuh yang sehat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|