Warga Iran memberikan penghormatan kepada almarhum Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam upacara perpisahan menjelang pemakamannya di Masjid Agung Mosallah di Teheran, Iran, pada 4 Juli 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Setidaknya dari sudut pandang Amerika Serikat, momen ketika rakyat Iran turun ke jalan untuk mengiringi pemakaman tokoh dengan simbolisme tertinggi di negara itu seharusnya dipenuhi suasana duka dan keterpurukan.
Iran baru saja keluar dari perang—meskipun hanya sementara—dan diperkirakan masih berada dalam kondisi lemah.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Teheran menampilkan dirinya sebagai kekuatan yang tetap bersatu, mampu bertahan menghadapi tekanan, dan bertekad menentukan masa depannya sendiri.
Dalam laporannya, Reuters, dikutip pada Selasa (7/7/2026) menyebut bahwa prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran yang telah wafat, Ayatollah Ali Khamenei, tidak sekadar menjadi upacara perpisahan nasional.
Acara tersebut berubah menjadi demonstrasi dukungan rakyat yang membawa pesan jelas kepada Amerika Serikat dan Israel bahwa upaya mereka untuk menundukkan Republik Islam Iran telah gagal.
Reuters mengutip sejumlah pejabat regional, diplomat, dan analis yang menilai bahwa simbolisme yang sarat dengan pesan keteguhan dan daya tahan itu akan menjadi fondasi strategi negosiasi Iran pada tahap berikutnya.
Menurut mereka, pemakaman tersebut merupakan momen ketika Teheran berusaha mengubah kemampuannya bertahan menghadapi tekanan menjadi alat tawar politik yang efektif.
Mereka juga menilai bahwa perang telah memperlihatkan secara nyata besarnya pengaruh Iran terhadap Selat Hormuz. Karena itu, pada putaran perundingan mendatang, akan sangat sulit memisahkan isu Selat Hormuz dari isu program nuklir Iran.

3 hours ago
3













































