REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, memandang peta ekonomi ASEAN kini semakin kompetitif seiring naiknya Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas.
Bank Dunia menetapkan rentang pendapatan nasional bruto (gross national income/GNI) per kapita sebesar 4.636-14.375 dolar AS sebagai ambang negara berpendapatan menengah atas untuk tahun fiskal 2027. Di ASEAN, Vietnam dan Filipina kini masuk kelompok tersebut bersama Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
"Artinya, ASEAN tidak lagi hanya bersaing sebagai kawasan berupah murah, tetapi mulai memasuki kompetisi produktivitas, industrialisasi, ekspor, dan kualitas sumber daya manusia (SDM)," kata Rizal di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Bagi Indonesia, menurut Rizal, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan sekaligus peluang. Persaingan dalam menarik investasi asing akan semakin ketat karena investor akan membandingkan Indonesia dengan Vietnam yang kuat di sektor manufaktur berorientasi ekspor, Filipina yang unggul di sektor jasa dan tenaga kerja terdidik, serta Malaysia dan Thailand yang lebih matang dalam rantai pasok industri.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga membuka peluang kolaborasi ASEAN sebagai basis produksi terintegrasi selama Indonesia mampu masuk lebih dalam ke rantai nilai regional, bukan hanya menjadi pasar besar dan pemasok bahan mentah. Rizal mencatat keunggulan Indonesia terletak pada skala ekonomi, pasar domestik yang besar, sumber daya alam (SDA) yang strategis, serta potensi hilirisasi.
Namun, Indonesia juga masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain produktivitas tenaga kerja yang belum tinggi, biaya logistik dan energi yang masih menjadi beban, kepastian regulasi yang sering berubah, serta kualitas SDM dan inovasi yang belum merata.
"Jadi, dibandingkan dengan Vietnam dan Filipina, Indonesia unggul dari sisi ukuran pasar dan SDA, tetapi masih harus mengejar agresivitas manufaktur ekspor, efisiensi birokrasi, dan kualitas tenaga kerja," jelas Rizal.
Ia juga memandang target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi masih realistis dalam jangka panjang, tetapi tidak mudah dicapai dalam waktu dekat. Ambang negara berpendapatan tinggi menurut Bank Dunia berada pada GNI per kapita di atas 14.375 dolar AS, sedangkan Indonesia masih berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas.
Karena itu, menurut Rizal, kuncinya bukan sekadar menjaga pertumbuhan lima persen, melainkan mendorong pertumbuhan berbasis produktivitas, yakni melalui industrialisasi bernilai tambah, ekspor manufaktur dan jasa modern, pendidikan vokasi, inovasi, kepastian investasi, serta reformasi birokrasi.
"Tanpa itu, Indonesia berisiko terjebak dalam middle-income trap. Naik kelas secara statistik, tetapi belum kuat menjadi ekonomi maju," kata Rizal.
sumber : Antara

4 hours ago
3












































