Tipu Warga AS 100 Juta Dolar AS Lewat Aplikasi Kencan, Pria Indonesia Ditangkap di Phuket

3 hours ago 1

Cara mencegah penipuan digital. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,PHUKET — Kepolisian Thailand berhasil meringankan langkah hukum terhadap seorang pria warga negara Indonesia (WNI) yang diduga melakukan penipuan daring (online) terhadap warga Amerika Serikat dengan nilai kerugian mencapai 10 juta dolar AS (sekitar Rp 157 miliar). Tersangka kini tengah menunggu proses ekstradisi ke Amerika Serikat.

Pria berusia 33 tahun tersebut diringkus di sebuah resor mewah di Pulau Phuket pada Jumat (24/4/2026). Penangkapan ini dilakukan setelah pihak berwenang Thailand menerima informasi akurat dari Biro Investigasi Federal AS (FBI).

"FBI menyatakan bahwa pria ini dicari karena melakukan penipuan terhadap warga Amerika senilai sekitar 10 juta dolar AS," ujar Suriya Poungsombat, perwakilan dari Kepolisian Imigrasi Nasional Thailand, sebagaimana dilansir AFP yang dikutip dari Al Jazeera.

Modus 'Romance Scam'

Berdasarkan keterangan kepolisian, tersangka diketahui melakukan perjalanan dari Dubai, Uni Emirat Arab, dan tiba di Thailand pada Rabu pekan lalu. Setelah penangkapan di Phuket, ia langsung dipindahkan ke pusat penahanan imigrasi di Bangkok untuk proses ekstradisi.

Laporan media lokal menyebutkan bahwa sejak tahun 2022 hingga 2026, tersangka menjalankan aksinya melalui aplikasi kencan dan media sosial. Modus yang digunakan adalah romance scam atau penipuan berkedok asmara.

Tersangka diduga menyewa model untuk mendekati para korban, menjalin hubungan emosional, hingga akhirnya membujuk mereka untuk berinvestasi pada platform palsu dengan iming-iming keuntungan besar.

Kasus ini dinilai semakin menegaskan posisi Asia Tenggara sebagai titik panas bagi operasi penipuan siber global. Kelompok kriminal terorganisasi sering kali memanfaatkan kasino, hotel, dan kompleks bangunan terpencil di wilayah ini sebagai basis operasi mereka.

Laporan kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) tahun 2025 mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan. Banyak pekerja asing di Dubai dilaporkan terpikat untuk bekerja dalam sindikat penipuan di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa Dubai mulai bertransformasi menjadi pusat rekrutmen dan perdagangan orang yang terkait erat dengan industri penipuan berbasis siber global.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|