REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Para ilmuwan berhasil menghidupkan kembali organisme mikroskopis berusia sekitar 24 ribu tahun yang ditemukan dalam lapisan es beku (permafrost) di Siberia. Temuan ini membuka pemahaman baru tentang kemampuan kehidupan bertahan dalam kondisi ekstrem selama puluhan ribu tahun.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Current Biology. Para peneliti mengidentifikasi organisme tersebut sebagai rotifer, hewan multiseluler berukuran sangat kecil yang umumnya hidup di lingkungan air tawar.
Organisme ini ditemukan dalam lapisan tanah beku kaya es yang dikenal sebagai formasi Yedoma. Lapisan tersebut terbentuk sejak periode Pleistosen Akhir, yang berakhir sekitar 11.700 tahun lalu.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa kondisi lingkungan yang stabil dan sangat dingin memungkinkan organisme tersebut tetap terawetkan selama puluhan ribu tahun. Permafrost berperan sebagai “lemari pembeku alami” yang menjaga struktur biologisnya.
Setelah dicairkan secara hati-hati di laboratorium, rotifer tersebut menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Organisme ini kembali aktif dan bahkan mampu bereproduksi secara aseksual.
Peneliti utama, Stas Malavin, menyebut temuan ini sebagai bukti kuat bahwa organisme multiseluler mampu bertahan dalam kondisi hampir tanpa aktivitas metabolisme dalam waktu yang sangat lama.
“Ini merupakan bukti paling kuat sejauh ini bahwa hewan multiseluler dapat bertahan selama puluhan ribu tahun dalam kondisi cryptobiosis,” ujarnya.
Cryptobiosis adalah kondisi ekstrem dalam dunia biologi di mana aktivitas metabolisme organisme turun hingga hampir nol. Dalam keadaan ini, proses-proses vital seperti pertumbuhan, reproduksi, dan konsumsi energi praktis berhenti sementara. Organisme seolah-olah “mati secara fungsional”, tetapi sebenarnya masih hidup dalam keadaan dorman yang sangat stabil.
Keadaan ini biasanya dipicu oleh lingkungan yang sangat keras, seperti suhu sangat rendah, kekeringan ekstrem, kekurangan oksigen, atau bahkan paparan radiasi tinggi. Untuk bertahan, organisme melakukan adaptasi khusus, misalnya dengan mengurangi kadar air dalam sel atau memproduksi senyawa pelindung yang menjaga struktur sel agar tidak rusak selama fase dorman tersebut.
Ketika kondisi lingkungan kembali normal, organisme yang berada dalam kondisi cryptobiosis dapat “bangkit kembali” dan melanjutkan aktivitas biologisnya seperti semula. Kemampuan ini menjadikan cryptobiosis sebagai salah satu mekanisme bertahan hidup paling ekstrem di alam, sekaligus menjadi objek penelitian penting untuk memahami batas ketahanan kehidupan, termasuk kemungkinan kehidupan di lingkungan ekstrem di luar Bumi.
Sebelumnya, ilmuwan telah berhasil menghidupkan kembali organisme dari es, namun sebagian besar berupa organisme bersel tunggal. Keberhasilan menghidupkan kembali organisme multiseluler menjadi pencapaian penting dalam dunia sains, sebagaimana diberitakan Foxnews pada Sabtu 24 April 2026.

2 hours ago
2
















































