Misteri Runtuhnya Toko Nam: Mengapa Landmark Legendaris Surabaya Ini Harus Lenyap di Tengah Malam?

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Di sudut pertemuan jalan yang tak pernah benar-benar sepi, langkah pejalan kaki pernah terhenti oleh sesuatu yang terasa janggal. Pilar-pilar berdiri di atas trotoar, seperti ingatan yang setengah hadir, setengah menghilang. Orang melintas, sebagian mengenal, sebagian bertanya-tanya. Nama itu, Toko Nam, hidup dalam ruang yang tak sepenuhnya jelas, antara sejarah dan bayangannya.

Kini, ketika fasad itu mulai dibongkar pada malam hari, kota seperti sedang membuka kembali lembar lama. Ada yang retak, ada yang diluruskan. Surabaya, dengan segala denyut modernitasnya, sedang bernegosiasi dengan masa lalunya sendiri.

Pembongkaran fasad eks Toko Nam di Jalan Embong Malang bukan sekadar pekerjaan teknis yang ditargetkan rampung dalam hitungan hari. Ia adalah peristiwa simbolik. Sebuah titik temu antara kebutuhan kota yang terus bergerak dengan upaya merawat ingatan yang tak pernah benar-benar selesai.

Pada masanya, Toko Nam bukan sekadar ruang jual beli. Ia adalah tanda zaman. Berdiri sejak awal abad ke-20, toko ini menjadi pelopor konsep ritel modern di Surabaya, bahkan di Hindia Belanda. Ketika banyak toko masih mengandalkan transaksi langsung, Toko Nam telah memperkenalkan layanan antar barang, sesuatu yang kini terasa biasa, tetapi pada zamannya adalah lompatan besar dalam cara orang berbelanja.

Letaknya yang strategis di kawasan Tunjungan dan Embong Malang menjadikannya pusat denyut ekonomi dan sosial kota. Dalam satu dekade, ia tumbuh pesat, berpindah ke ruang yang lebih luas, menampung kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Pada periode 1960-an hingga 1980-an, kejayaannya mencapai puncak, menjadi toko serba ada yang lekat dalam ingatan warga.

Namun, seperti banyak ikon kota, waktu tak pernah berhenti berjalan. Pusat perbelanjaan modern datang dengan wajah baru, membawa cara konsumsi yang berbeda. Toko Nam perlahan kehilangan ruangnya, hingga akhirnya dibongkar pada akhir 1990-an. Sebagai gantinya, berdiri kompleks komersial yang mencerminkan arah baru Surabaya.

Untuk menjaga ingatan, dibangunlah fasad yang menyerupai tampak depan Toko Nam. Sebuah niat baik, tetapi menyimpan persoalan. Fasad itu bukan rekonstruksi utuh berbasis data sejarah, melainkan simbol yang berdiri di tempat yang sama tanpa konteks yang jelas. Seiring waktu, ia menghadirkan ambiguitas, mana yang benar-benar sejarah, mana yang sekadar interpretasi.

Ambiguitas itu tidak hanya bersifat naratif. Dalam praktiknya, fasad tersebut mulai berbenturan dengan kebutuhan kota modern. Berdiri di atas trotoar, ia mengganggu ruang pejalan kaki yang seharusnya menjadi prioritas. Secara visual, ia juga tidak lagi menyatu dengan lanskap kota yang terus berkembang.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|