Pejuang Brigade Al-Qassam sebelum menyerahkan seorang tawanan Israel ke Palang Merah di Gaza pada 2025.
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Pemimpin Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) Mahmoud Mardawi menegaskan penolakan mutlak gerakan tersebut untuk menyerahkan seluruh senjata dalam batas waktu 60 hari sebagaimna disebutka media Israel. Rezim entitas zionis mengharuskan Hamas menyerahkan senjatanya, termasuk senjata pribadi.
Kepada Aljazeera, dikutip Selasa (17/2/2026), Mardawi mengatakan gerakan tersebut tidak menerima pemberitahuan resmi dari pihak mana pun mengenai keputusan ini.
Dia menegaskan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu— yang dicari oleh Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan kejahatan perang di Gaza— dan media hanyalah ancaman yang tidak berdasar dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Mardawi menambahkan, Israel pada dasarnya melakukan perang agama melalui kebijakannya di Tepi Barat dan Yerusalem, bukan hanya pendudukan militer.
Dia mengutip penguasaan atas situs-situs agama seperti Makam Rahel dan Masjid Al-Ibrahimi, serta operasi pemindahan dan aneksasi yang bertujuan untuk men-Yahudikan Yerusalem.
Dia menjelaskan, tindakan-tindakan ini bertujuan mendorong rakyat Palestina untuk bermigrasi, tetapi tidak akan mencapai tujuannya.
“Rakyat Palestina akan bertahan di tanah mereka meskipun ada blokade dan pembunuhan yang terus-menerus di Gaza dan Tepi Barat,” kata dia menegaskan.
Dialog antara faksi-faksi Palestina
Dalam menanggapi pertanyaan mengenai ancaman Israel untuk menggunakan kekuatan setelah batas waktu berakhir, Mardawi menegaskan ancaman apa pun akan menimbulkan dampak serius bagi kawasan tersebut, dan menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan menyerah.
sumber : Antara

3 weeks ago
6















































