REPUBLIKA.CO.ID,SELANGOR — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010–2021, Prof KH Said Aqil Siroj menyerukan pentingnya menempatkan persatuan umat Islam di atas fanatisme mazhab yang sempit. Menurut dia, kesatuan umat bukan sekadar slogan emosional, melainkan prinsip syar’i sekaligus pilihan strategis yang menentukan masa depan peradaban Islam.
"Sesungguhnya kesatuan umat Islam bukan sekadar isu retoris yang muncul saat krisis, atau slogan emosional yang dikibarkan pada momen-momen genting. Ia adalah prinsip syar’i, kebutuhan peradaban," kata Kiai Said dalam teks pidatonya yang diterima Republika, Rabu (21/1/2026).
Menurut Kiai Said, Alquran telah menegaskan realitas ini dengan sangat jelas, tanpa ruang keraguan, ketika Allah berfirman:“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. al-Ḥujurat: 10)
Seruan tersebut disampaikan Kiai Said Aqil saat menjadi pembicara dalam International Conference on Muslim Unity and Palestine yang digelar di Selangor, Malaysia, Selasa (20/1/2026). Forum internasional ini dihadiri para ulama, akademisi, dan aktivis Muslim dari berbagai negara yang membahas isu persatuan umat dan krisis kemanusiaan di Palestina.
Dalam pidatonya, Kiai Said menegaskan, Alquran secara eksplisit meletakkan fondasi persaudaraan umat Islam. Dalam praktiknya, umat justru kerap gagal mengelola perbedaan secara arif sehingga keragaman mazhab yang lahir dari ijtihad yang sah berubah menjadi sumber konflik.
Dalam sebagian kalangan, lanjutnya, identitas mazhab bahkan didahulukan atas identitas keumatan, atau dijadikan pengganti darinya.
"Transformasi berbahaya ini telah melumpuhkan kemampuan umat untuk membangun proyek peradaban yang inklusif, serta membuatnya lebih rentan terhadap perpecahan internal dan penetrasi eksternal," jelasnya.

1 month ago
19

















































