REPUBLIKA.CO.ID, TIMOR TENGAH SELATAN — Pemberdayaan perempuan kian dipandang sebagai kunci dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan memperkuat ketahanan komunitas di tingkat lokal. Hal ini mengemuka dalam Festival Pesisir Selatan 2026 yang digelar di Pantai Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, pada 27–29 Maret.
Festival yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas ini menyoroti peran strategis perempuan dalam membangun perdamaian berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana yang kian intens akibat perubahan iklim.
Tema “Perempuan Berdaya untuk Perdamaian Berkelanjutan” menegaskan bahwa perempuan tidak hanya menjadi kelompok rentan terhadap krisis iklim, tetapi juga aktor penting dalam solusi. Pemberdayaan perempuan dinilai mampu memperkuat kohesi sosial, mempercepat adaptasi, serta mendorong transformasi ekonomi berbasis komunitas.
Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, menegaskan pemberdayaan perempuan harus ditempatkan sebagai strategi pembangunan lintas sektor. Menurutnya, perempuan berdaya berarti memiliki akses, kesempatan, dan kapasitas untuk terlibat aktif dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam isu lingkungan dan kebencanaan.
“Pemberdayaan perempuan bukan hanya isu gender, tetapi menyangkut pembangunan sosial, ekonomi, budaya, hingga lingkungan,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers UN WOMEN, Jumat (27/3/2026).
Festival ini merupakan bagian dari Program WE NEXUS yang diinisiasi UN Women dengan dukungan KOICA, serta dijalankan bersama CIS Timor dan Save the Children. Program ini berfokus pada pencegahan konflik, mitigasi risiko iklim, serta penguatan ketahanan masyarakat desa, khususnya bagi perempuan dan anak perempuan.
Di Nusa Tenggara Timur, program ini telah menjangkau tujuh desa dan mendorong perubahan nyata, baik di tingkat kebijakan maupun praktik lapangan. Salah satu capaian penting adalah lahirnya Peraturan Gubernur NTT Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pencegahan Konflik Sosial, yang memperkuat kerangka kerja perlindungan masyarakat, termasuk perempuan dan anak.
Selain itu, tujuh satuan tugas desa telah dibentuk untuk memperkuat kohesi sosial, meningkatkan kesiapsiagaan bencana, serta mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Di Kabupaten TTS, perempuan dan anak muda dari sejumlah desa seperti Spaha, Oetuke, dan Tuapakas kini aktif terlibat dalam perencanaan pembangunan desa.
Keterlibatan ini menjadi krusial dalam konteks perubahan iklim, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap bencana seperti kekeringan, badai, dan degradasi lingkungan. Perempuan, yang sering berperan dalam pengelolaan sumber daya rumah tangga dan pangan, memiliki pengetahuan lokal yang penting dalam strategi adaptasi.
Perwakilan UN Women Indonesia, Ulziisuren Jamsran, menekankan perempuan memiliki kontribusi besar dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus meningkatkan ketahanan komunitas terhadap krisis. Menurutnya upaya memperkuat kepemimpinan perempuan akan berdampak langsung pada kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.
“Perempuan membantu masyarakat tetap tangguh menghadapi bencana dan perubahan iklim. Mendukung mereka berarti membangun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh CIS Timor yang menilai perubahan dapat dimulai dari tingkat komunitas, termasuk melalui peningkatan kapasitas perempuan desa. Memberikan ruang partisipasi yang lebih luas bagi perempuan diyakini akan menghasilkan keputusan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Save the Children Indonesia menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dan anak muda dalam inisiatif perdamaian dan penguatan kohesi sosial. Partisipasi aktif kedua kelompok ini dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana dan dampak perubahan iklim.
Adapun rangkaian kegiatan festival, seperti dialog lintas pemangku kepentingan, aksi budaya, hingga kegiatan lingkungan, menjadi ruang pembelajaran bersama. Namun lebih dari itu, festival ini berfungsi sebagai platform untuk menyebarluaskan praktik baik serta memperkuat kolaborasi antar pihak dalam membangun ketahanan wilayah pesisir.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan isu gender, perdamaian, dan perubahan iklim, Festival Pesisir Selatan 2026 menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penerima dampak, tetapi juga pemimpin perubahan. Upaya memperkuat peran perempuan di tingkat lokal diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain dalam menghadapi tantangan krisis iklim yang semakin kompleks.
sumber : UN Women

7 hours ago
3















































