Iran dilaporkan menjual rudal balistik jarak pendek Fath-360 ke Rusia.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Eskalasi militer di Asia Barat kian memuncak setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan peluncuran Gelombang ke-49 Operasi Janji Setia 4 (True Promises-4) pada Sabtu (14/3/2026).
Serangan fajar tersebut menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan dengan menggunakan tembakan rudal dan drone yang masif secara serentak. Dalam pernyataan resminya, IRGC merinci tiga titik utama yang menjadi sasaran serangan presisi mereka, dikutip dari Al Mayadeen.
Pertama, Pangkalan Al-Dhafra. IRGC mengeklaim telah menghantam Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA) dengan serangan drone bunuh diri dan rudal balistik presisi. Serangan tersebut dilaporkan mengenai sistem radar Patriot, menara pengawas, serta depot pertahanan udara milik AS.
Selain itu, Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain juga menjadi target. IRGC menyatakan, sistem radar peringatan dini, hanggar pesawat, platform pusat, hingga tangki bahan bakar pesawat militer AS berhasil dihancurkan dalam operasi tersebut.
Laporan tersebut juga menyertakan serangan terhadap Pangkalan Al-Udairi di Kuwait. Serangan udara Iran diklaim telah menghancurkan depot peralatan, fasilitas penyimpanan helikopter, serta titik-titik kumpul pasukan AS di pangkalan tersebut.
Seiring dengan serangan darurat ini, IRGC kembali mengeluarkan peringatan keras bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah "kendali penuh dan presisi" Angkatan Laut Iran. Teheran menegaskan tidak akan mengizinkan kapal tanker minyak maupun kapal komersial milik "agresor dan sekutunya" untuk melintas.

3 hours ago
1

















































