Karyawan mau resign padahal baru masuk kerja (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Memasuki babak baru dalam karier seharusnya menjadi momen yang mendebarkan sekaligus membahagiakan. Namun, apa jadinya jika antusiasme pada hari pertama kerja justru berubah menjadi rasa cemas yang menyesakkan dada?
Banyak dari kita sering kali mengabaikan suara hati kecil saat merasakan ada yang "salah" dengan budaya kantor yang baru. Padahal, bertahan di lingkungan kerja yang penuh tekanan, penuh intrik, atau eksploitatif adalah jebakan yang semakin sulit dilepaskan semakin lama kita berada di dalamnya.
Presiden dari lembaga konsultasi pengembangan kepemimpinan Careerstone Group sekaligus penulis buku Managing Up: How to Move Up, Win at Work, and Succeed with Any Type of Boss, Mary Abbajay, mengatakan sekali seseorang mulai bekerja dalam budaya yang beracun, mereka biasanya menjadi enggan untuk pergi. "Mereka mulai berpikir, 'Ah, mungkin ini cuma perasaan saya saja,' atau 'Astaga, pasti nanti akan ada seseorang yang membereskan masalah ini,'" ujar Abbajay dikutip dari laman Huffington Post pada Senin (23/3/2026). Harapan palsu inilah yang sering kali membuat kita tertahan di tempat yang salah.
Dampak ngeri bagi kesehatan fisik dan mental
Pekerjaan yang toksik bukan hanya soal beban tugas yang menumpuk, tapi soal bagaimana lingkungan tersebut mengacaukan pikiran. Saat Anda melihat tempat kerja sebagai "zona bahaya", tubuh akan bereaksi. Anda mulai kurang tidur, stres meningkat drastis, dan kesehatan mental pun merosot tajam.
Abbajay mengatakan jika seseorang bertahan terlalu lama, harga diri mereka akan hancur hingga mereka merasa tidak cukup baik untuk mencoba peruntungan di tempat lain. Dampaknya bahkan bisa lebih fatal dari sekadar rasa cemas.

6 hours ago
3
















































