
Asst Vice President Mandiri, Muhamad Alfajar di sela acara bertajuk Mandiri Lelang Festival (MLF) 2026 di Ballroom Grandhika Hotel, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Senin (11/5/2026). (Solopos/Adhik kurniawan).
SEMARANG – Ratusan unit properti dipamerkan kepada para agen properti, investor, hingga para broker dalam acara bertajuk Mandiri Lelang Festival (MLF) 2026 di Ballroom Grandhika Hotel, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Senin (11/5/2026). Mengangkat tema "Investasi Cerdas, Kesempatan Emas", MLF 2026 yang dimulai pada 1 Mei hingga 30 Juni ini, menawarkan harga penawaran hingga 50% di bawah harga pasar.
Asst Vice President Mandiri, Muhamad Alfajar, menyampaikan aset-aset yang dilelang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jenisnya pun beragam mulai dari rumah, ruko, tanah kosong, bangunan pabrik, apartemen, gudang, perkebunan, hingga persawahan dengan luas beragam sesuai kebutuhan.
“Aset tersebar di seluruh Jateng dan DIY, ada sekitar ratusan. Jadi tidak hanya di kota-kota besar seperti Semarang dan Solo, tetapi juga ada di Tegal, Purwokerto, Magelang, Kudus daerah lainnya,” kata Alfajar di sela kegiatan MLF 2026.
Tak hanya tersebar merata di tiap kabupaten/kota, lanjut Alfajar, harga-harga yang ditawarkan dalam MLF 2026 juga menguntungkan karena 50% di bawah harga pasaran. Lebih jelasnya mengenai harga dan lokasi, masyarakat bisa mengakses mudah dengan mengunjungi laman https://lelang.bankmandiri.co.id/.
.jpg)
Oleh karenanya, tema “Investasi Cerdas, Kesempatan Emas” merupakan satu rangkaian MLF 2026 yang diselenggarakan di Jateng untuk menggaet para investor, agen properti hingga broker. Kegiatan ini merupakan ajang berbagi ilmu dan edukasi tentang keuntungan mengikuti lelang, khususnya bagi nasabah Mandiri.
“Kalau ada investor tertarik, terus juga mungkin keuangannya masih muter dalam bisnisnya, kami ada pembiayaan namanya KPR [kredit perumahan rakyat] lelang. Menariknya apa? Pembiayaan bisa bunga 2,6%, membeli asset lelang lewat pembiayaaan kredit,” ucapnya.
Alfajar menegaskan, proses pembelian aset properti dalam skema lelang bank telah dijamin oleh undang-undang (UU). Maka dari itu, masyarakat tak perlu khawatir dengan status kejelasan lahan maupun bangunan.
“Kami juga edukasi terus ke masyarakat, bahwa membeli lelang itu bukan momok yang menakutkan lagi. Bahkan saat ini, menjadi tren, bisnis. Sebuah bisnis properti yang menjanjikan bagi yang sudah tahu polanya. Karena aturannya sangat jelas,” pungkasnya.
Tak hanya itu, Alfajar juga menilai daya beli masyarakat tak mempengaruhi animo masyarakat untuk membeli lelang. Sebab, aset tanah maupun properti, merupakan barang investasi yang sangat menjanjikan untuk jangka panjang karena nilainya bisa terus naik dari tahun ke tahun.
“Justru untuk orang investasi, terhadap aset itu lagi banyak, tak terpengaruhi [daya beli]. Kenapa? Karena kita tahu, ketika beli aset tanah, itu enggak pernah rugi kan,” imbuhnya.
Sementara itu, Vice President Mandiri, M Sholicul Hadi, menilai lelang mulai menjadi instrumen investasi yang menjanjikan dalam kurun duta tahun terakhir. Selain alami peningkatan signifikan, properti hunian yang dibeli sekarang tak hanya sebatas pada aset berpenghuni, namun juga tak berpenghuni.
Sekadar untuk diketahui, kegiatan di Ballroom Grandhika Hotel tak hanya dihadiri oleh para investor, agen properti hingga broker. Namun, turut dihadiri perwakilan instansi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Semarang, dan Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Jateng DIY. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































